Jumat, 10 Januari 2025

 

SDT.NGOBROL 42

BUDI SAMPURNO.1.1.25



NIKMAT PALSU DARI ORTU

Sore itu, suami isteri di-teras rumah, santai menikmati suasana agak mendung. Wagiarti menyandarkan kepalanya di pundak Wagiman.  Angin semilir menghembus dari arah Timur, membuat rambut Wagiarti yang tergerai bergoyang-goyang, merambat ke lengan Wagiman.

WAGIMAN  : “Ini rambut kapan mau di-bawa ke-salon. Potong…bikin geli nih…”.

WAGIARTI : “ Potong ?!. Enak saja. Alaaa…geli-geli seneng….Tapi, saya menyandarkan kepala begini, itu sambil mikir lho, pak”.

WAGIMAN  : “ Mikir apa….?.Suasana sore romantis gini kok mikir yang aneh-aneh”.

WAGIARTI : “ Ya…memang aneh. Itu lho…para pelaku pelanggar hukum, kok grafiknya naik”.

WAGIMAN  : “ Naik apanya ?”

WAGIARTI : “ Naik bobroknya. Kasus demi kasus yang menyangkut penegakan hukum semakin banyak. Bukan hanya yang dilakukan oleh oknum masyarakat, tetapi juga para penegak hukum itu sendiri. Polisi, Jaksa, Hakim, Pengacara..!”.

WAGIMAN : “ Ya, sudahlah bu, nggak usah dipikir dalam-dalam. Ibu sendiri nanti yang jadi sakit. Sakit gregeten terus”.

WAGIARTI  : “ Ya gimana nggak geregeten pak. Coba kasus Sambo, begitu saja. Ada lagi yang menyesakkan dada,..itu pejabat tinggi MA …. Eee…malah jadi makelar kasus. Dalam kasus Ronald Tanur, ketahuanlah dia. Digerebeg rumahnya, ditemukan  uang dan emas kalau ditaksir senilai Satu Triliun Rupiah. Apa nggak konyol itu pak. Terakhir yang baru diviralkan, kasus Harvey Moeis yang cuma dijatuhi hukuman 6,5 Th. Padahal merugikan negara dan kerusakan ekologis akibat eksploitasi tambang timah illegal. Hak masyarakat untuk hidup layak dan sehat juga di-rampas. Kerugian ditaksir mencapai 300 Triliun Rupiah. Pak Presiden Prabowo sampai komentar…..Menciderai rasa keadilan !”.

WAGIMAN  : “ Wah, ibu kok tahu banyak, ya. Saya curiga…diam-diam ibu ini sering mencuri baca kliping-kliping saya, ya”.

WAGIARTI  : “ Hi hi hi…I ya. Habis kalau bapak sibuk di-kebun, saya selesai masak…ya curi-curi baca. Tapi kan rapi lagi. Sampai si-tukang kliping nggak tahu klipingnya diobrak-abrik, saya baca”.

WAGIMAN  : “ Ya, nggak usah di-pikir. Mumet, bu!. Kasus-kasus itu sudah ada yang ngurusi!”.

WAGIARTI : “ I ya pak. Saya tidak ngurusi oknum-oknum, para penyeleweng itu. Saya mikir akibat dari perbuatan mereka itu. Kalau ketahuan, pasti di-tangkap, jadi terdakwa, di sidang di- pengadilan, di-hukum!”.

WAGIMAN  : “ Ya, memang rentetannya begitu, bu. Terus kenapa ?”

WAGIARTI  : “ Rentetan itu pasti masuk media pak !. Apalagi medsos, lebih galak kalau memberitakan. Sebelum putusan akhir para hakim dan ketika rentetan berproses, beritanya sudah mengembara kemana-mana. Keluarganya sudah terhukum,  pak !”.

WAGIMAN  : “ Bener juga. Paling tidak para tetangganya sudah memperbincangkan secara negativ. Disertai bumbu-bumbu yang semakin tidak sedap. Itu secara langsung para tetangga sudah memberikan putusan hukuman tidak tertulis”.

WAGIARTI  : “ Belum anak-anaknya. Di-sekolahan sudah pasti jadi bulan-bulanan yang menyakitkan dan memalukan. Aneh memang orang-orang itu. Maksudnya mungkin ingin membahagiakan keluarganya. Membelikan mobil mewah, jalan-jalan ke-luar negeri. Tapi jalan dan caranya yang tidak bener “.

WAGIMAN  : “ Maksudnya baik. Ingin membahagiakan keluarga. Memberi nikmat dalam berkehidupan berkeluarga”.

WAGIARTI  : “ Ya…Si pemberi nikmat adalah orang tua. Jadi….Nikmat palsu  dari OrTu! ”.

Gelegar suara halilintar mengagetkan isteri yang bermanja pada suaminya. Hujan nggak tahu sopan- santun, langsung mengguyur dari langit. Wagiman dan Wagiarti berjingkat-jingkat masuk rumah.(Budi Sampurno.Mak’skom.IPJT.10.1.2025)

 

 

1 komentar:

  1. Semakin sering terungkap dan diberitakan, korupsi besar sekalipun sdh spt hal biasa kayak pelanggaran lalu lintas. Jadi ya ya ringan aja utk melakukan.
    Lepas dari segala teori penyebab timbulnya budaya korupsi, solusi apa yg paling efektif agar perilaku itu tdk mnjadi nekad dan spt menggampangkan resiko suhu Budi Sampoerno ?

    BalasHapus