SDT.NGOBROL 42
BUDI SAMPURNO.1.1.25
NIKMAT PALSU DARI ORTU
Sore itu, suami isteri di-teras rumah,
santai menikmati suasana agak mendung. Wagiarti menyandarkan kepalanya di
pundak Wagiman. Angin semilir menghembus
dari arah Timur, membuat rambut Wagiarti yang tergerai bergoyang-goyang,
merambat ke lengan Wagiman.
WAGIMAN : “Ini rambut kapan mau di-bawa ke-salon. Potong…bikin
geli nih…”.
WAGIARTI : “ Potong ?!.
Enak saja. Alaaa…geli-geli seneng….Tapi, saya menyandarkan kepala begini, itu sambil
mikir lho, pak”.
WAGIMAN : “ Mikir apa….?.Suasana sore romantis gini
kok mikir yang aneh-aneh”.
WAGIARTI : “ Ya…memang
aneh. Itu lho…para pelaku pelanggar hukum, kok grafiknya naik”.
WAGIMAN : “ Naik apanya ?”
WAGIARTI : “ Naik bobroknya.
Kasus demi kasus yang menyangkut penegakan hukum semakin banyak. Bukan hanya
yang dilakukan oleh oknum masyarakat, tetapi juga para penegak hukum itu
sendiri. Polisi, Jaksa, Hakim, Pengacara..!”.
WAGIMAN : “ Ya, sudahlah
bu, nggak usah dipikir dalam-dalam. Ibu sendiri nanti yang jadi sakit. Sakit
gregeten terus”.
WAGIARTI : “ Ya gimana nggak geregeten pak. Coba kasus
Sambo, begitu saja. Ada lagi yang menyesakkan dada,..itu pejabat tinggi MA …. Eee…malah
jadi makelar kasus. Dalam kasus Ronald Tanur, ketahuanlah dia. Digerebeg
rumahnya, ditemukan uang dan emas kalau
ditaksir senilai Satu Triliun Rupiah. Apa nggak konyol itu pak. Terakhir yang
baru diviralkan, kasus Harvey Moeis yang cuma dijatuhi hukuman 6,5 Th. Padahal
merugikan negara dan kerusakan ekologis akibat eksploitasi tambang timah
illegal. Hak masyarakat untuk hidup layak dan sehat juga di-rampas. Kerugian
ditaksir mencapai 300 Triliun Rupiah. Pak Presiden Prabowo sampai komentar…..Menciderai
rasa keadilan !”.
WAGIMAN : “ Wah, ibu kok tahu banyak, ya. Saya
curiga…diam-diam ibu ini sering mencuri baca kliping-kliping saya, ya”.
WAGIARTI : “ Hi hi hi…I ya. Habis kalau bapak sibuk di-kebun,
saya selesai masak…ya curi-curi baca. Tapi kan rapi lagi. Sampai si-tukang
kliping nggak tahu klipingnya diobrak-abrik, saya baca”.
WAGIMAN : “ Ya, nggak usah di-pikir. Mumet, bu!.
Kasus-kasus itu sudah ada yang ngurusi!”.
WAGIARTI : “ I ya pak.
Saya tidak ngurusi oknum-oknum, para penyeleweng itu. Saya mikir akibat dari
perbuatan mereka itu. Kalau ketahuan, pasti di-tangkap, jadi terdakwa, di
sidang di- pengadilan, di-hukum!”.
WAGIMAN : “ Ya, memang rentetannya begitu, bu. Terus
kenapa ?”
WAGIARTI : “ Rentetan itu pasti masuk media pak !.
Apalagi medsos, lebih galak kalau memberitakan. Sebelum putusan akhir para
hakim dan ketika rentetan berproses, beritanya sudah mengembara kemana-mana. Keluarganya
sudah terhukum, pak !”.
WAGIMAN : “ Bener juga. Paling tidak para tetangganya
sudah memperbincangkan secara negativ. Disertai bumbu-bumbu yang semakin tidak
sedap. Itu secara langsung para tetangga sudah memberikan putusan hukuman tidak
tertulis”.
WAGIARTI : “ Belum anak-anaknya. Di-sekolahan sudah
pasti jadi bulan-bulanan yang menyakitkan dan memalukan. Aneh memang orang-orang
itu. Maksudnya mungkin ingin membahagiakan keluarganya. Membelikan mobil mewah,
jalan-jalan ke-luar negeri. Tapi jalan dan caranya yang tidak bener “.
WAGIMAN : “ Maksudnya baik. Ingin membahagiakan
keluarga. Memberi nikmat dalam berkehidupan berkeluarga”.
WAGIARTI : “ Ya…Si pemberi nikmat adalah orang tua.
Jadi….Nikmat palsu dari OrTu! ”.
Gelegar suara halilintar
mengagetkan isteri yang bermanja pada suaminya. Hujan nggak tahu sopan- santun,
langsung mengguyur dari langit. Wagiman dan Wagiarti berjingkat-jingkat masuk
rumah.(Budi Sampurno.Mak’skom.IPJT.10.1.2025)