Senin, 21 Oktober 2019


LIMA PROGRAM PRIORITAS PRESIDEN
 JAKOWI 2019-2024

  1. MEMBANGUN  SDM
  2. MELANJUTKAN  PEMBANGUNAN  INFRASTRUKTUR
  3. MENYEDERHANAKAN  REGULASI
  4. MENYEDERHANAKAN  BIROKRASI  UNTUK  MENDORONG  INVESTASI
  5. TRANSFORMASI  EKONOMI
(JAWA POS 21/10/2019)


SELAMAT ATAS DILANTIKNYA SEBAGAI PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN
MASA JABATAN 2019 - 2024
BERSATU MENUJU INDONESIA MAJU DAN DAMAI

SELAMAT BEKERJA UNTUK INDONESIA TERCINTA

Selasa, 23 Juli 2019


SUDUT SASTRA 4
MINGGU PERPISAHAN DI JAWA POS DAN DI KOMPAS
Menarik kita cermati cerpen di Harian Jawa Pos dan Harian Kompas dalam terbitan yang sama. Yaitu Minggu tgl 21 Juli 2019. Kedua harian itu memuat cerpen yang mengandung makna “perpisahan”. Betapa tidak, Jawa Pos memuat cerpen berjudul “ MELEPASKAN GARA” dan cerpen yang di muat di Kompas berjudul “ MITONI TERAKHIR “.
Di Jawa Pos diceriterakan perpisahan keluarga, terutama sang ayah yang melepaskan anaknya bernama Gara. Lengkapnya bernama Kynan Garawiksa, untuk dititipkan di pondok pesantren. Kata- kata yang meluncur dari sang ayah ( yang dulu juga pernah dititipkan di pondok Tebu Ireng ), sambil mengelus-elus kepala Gara yang berpeci hitam serta membacakan salawat beberapa kali : “ Le, kerasan ya di sini, baik-baik sama teman-teman, ikuti semua aturan dan perintah guru-guru, ya…” Sang ayah menatap sekujur wajah Gara dan seakan hatinya melepas jangkar dimata Gara yang jernih.
Sang ayah selalu terngiang kebiasaan Gara kalau sang ayah pulang malam
“ Kok kamu belum tidur, Le?
“ Aku nggak bisa tidur “
“ Kenapa ?”
“ Nunggu Ayah…”
“ Mau dibuatkan migoreng ?”
“ Mau…”
Setelah mi tandas di makan  Gara, keduanya bergandengan tangan masuk kamar tidur.
Gara ada di pesantren dan sang ayah berharap kelak juga selalu dibacakan Fatihah oleh
Gara.

Di Kompas diceritakan seorang ibu yang memiliki tujuh anak perempuan yang semuanya sudah nikah. Ketika hamil pada usia tujuh bulan selalu diadakan upacara mitoni. Terkecuali anak bungsunya yang tidak mau melakukan upacara adat mitoni.
Keluh kesahnya sang ibu “ Namun, sayang, Setyaningsih, anak bungsuku, agak berbeda. Ketika hamil pada akhirnya, ia menolak melakukan hajatan mitoni. Katanya, adat itu sudah terlalu kuno- tak lagi mencerminkan lingkungan sosial dan pendidikannya
Katanya, bangsa Barat, Amerika, tempatnya bersekolah, tak ada tradisi mitoni. Ia memang berniat melakukan hajatan, tetapi dengan cara berbeda. Cara yang lebih praktis. Ia sebut hajatan itu dalam bahasa Inggris, babyshower.
Sang ibu juga hampir ragu terhadap anaknya “ Begitu cantiknya dirinya dengan semua perubahan itu, sampai aku tak yakin ia anakku, Setyaningsih. Semua agak berubah, dari alisnya, bentuk bibirnya dan hidungnya yang menjadi mancung. Hampir semuanya tak lagi milikku, atau suamiku.”
Sang ibu memang menjadi sadar, bahwa dunia ini memang mudah berubah. Semua akan selalu berubah. Tak ada kepastian, selain kematian. Setyaningsih juga telah berubah, tak lagi seperti anak-anak yang dulu selalu di rawat dan diberikan pendidikan, agar nantinya tumbuh menjadi perempuan Jawa yang ikut merawat miliknya sendiri, dengan percaya diri.
Penulis juga berceritera, bahwa ibu itu hanya ingin Setyaningsih itu sebagai orang Jawa. Menjalani tradisi yang sudah menjadi baju masyarakatnya sejak dulu itu saja. Ibu itu ingin merasakan bagaimana indahnya memberikan berkat pada anak cucunya. Memberkati bersama para kerabat, tetangga dan anak-anak yang lucu dan bandel dalam acara mitoni.
Tampaknya ibu itu memang sudah harus benar benar berpisah dengan acara mitoni. Karena ketika kita ikuti dialog antara si ibu dengan Setyaningsih
“ Teman-teman sudah seperti itu, Bu “
“ Apa bedanya nduk ?”
“ Repot, Bu, hajatan seperti mitoni itu, ribet dan tak rasional”.

Kekecewaan ibu itu juga digambarkan, bahwa suami Setyaningsih seorang pengusaha sukses, sering hidup di luar negeri dan sudah mulai susah melafalkan bahasa-bahsa lokal hanya menurut saja apa yang dikatakan Setyaningsih, istrinya. Katanya, Ibu tak usah repot-repot bikin mitoni. Biar kami sendiri yang menangani.

Tampaknya ibu itu pasrah, harus berpisah dengan acara yang baginya  sudah menjadi adat bagi keluarganya serta menjadi baju masyarakatnya, masyarakat Jawa. Yang dahulunya ke-enam anaknya selalu secara sadar mengadakan acara mitoni.

Cerpen “MELEPASKAN GARA” ditulis oleh EDI AH IYUBENU, seorang cerpenis dan esais, tinggal di Yogyakarta dan cerpen “MITONI TERAKHIR” ditulis oleh WAHYU FRIANDANA , juga tinggal di Yogyakarta, mahasiswa ISI . (Budi Sampurno.Mak’skom.IPJT.23.7.19 )
 

Senin, 22 Juli 2019


SUDUT KOMENTAR 1.
Harian JAWA POS hari Senin tgl 22 Juli 2019 pada halaman 4 memuat tulisan Sdr.BAGONG SUYANTO berjudul “ FONDASI MEWUJUDKAN VISI JAKOWI-MA’RUF “
Memang menarik masalah yang dibicarakan, karena menyangkut kelanggengan dan kemajuan serta persatuan dan kesatuan Negara dan Bangsa yang sama sama kita cintai.
Inti pembicaraan adalah masalah inteleransi yang saat sekarang ini dan sebenarnya sudah lama menggelayut, mengganggu kehidupan Bangsa Indonesia.
Diakhir pembicaraannya yang bersifat menganalisa  dengan menyebut beberapa contoh ditulislah kalimat sbb :
“ Untuk mencegah agar sikap intoleransi tidak makin luas,  tidak ada salahnya jika dalam skala yang bisa ditoleransi, perbedaan yang ada dibicarakan, diperdebatkan, dan bahkan dipertengkarkan demi kemudian melewati masa antiklimaks untuk merajut keserasian sosial “.
Harapan sdr BAGONG , seperti dalam penutup tulisannya : “ Semoga lima tahun ke depan, di era Jakowi-Ma’ruf, bangsa Indonesia makin dewasa dalam menyikapi perbedaan “

Saya sangat setuju dengan harapan sdr BAGONG, dan tentunya sebagian besar bangsa Indonesia yang masih menginginkan kerukunan dan persatuan serta kesatuan demi kemajuan bangsa Indonesia yang dalam kehidupannya secara sadar dan ikhlas bermuara dan berdasarkan Pancasila.
Sebenarnya intelerasi sejak bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya sudah terjadi tindakan- tindakan intoleransi. Motivnya adalah induvidu yang ingin berkuasa dan memperdayakan masyarakat untuk mencapai keinginan pribadinya. Mereka bentuk ormas-ormas, mereka bentuk partai- partai . Ada yang jelas-jelas menyimpang dan ingin  mengganti Pancasila. Tentunya masih ada yang ingat pemberontakan kaum komunis, pemberontakan Permesta, gerakan-gerakan di Irian Jaya yang ingin memisahkan dari Indonesia dan lain –lain yang intinya bertindak intolerasi demi mencapai tujuan pribadi dari sang pemimpinnya dengan memperdayakan masyarakat awam. Untungnya Bung Karno bertindak cepat dan tegas sehingga persatuan dan kesatuan Negara dan Bangsa Indonesia tetap terjaga.
Tampaknya kelompok-kelompok tertentu tetap berusaha menebar intoleransi dengan memperdayaksn Bung Karno . maka timbulah G.30 S PKI dan menyusullah era Orde Baru.
Di awal Era Orde Baru intoleransi agak mereda, namun karena kepentingan-kepentingan dan ambisi pribadi terutama yang sudah mapan dan ingin mempertahankan kemapanannya, maka kembalilah intolerasi merebak dimana mana. Maka terbitlah Era Reformasi. Tetapi reformasi yang tujuannya mulia, justru intoleransi semakin merebak dan menjadi-jadi seperti yang dikupas oleh Sdr. BAGONG. Politik mempermainkan intoleransi, agama mempermainkan intoleransi yang dikendalikan oleh ambisi pribadi-pribadi yang ingin berkuasa. Partai Politik tumbuh tak terbendung dengan dalih sistem demokrasi. Lalu munculnya partai-partai yang sekarang sebegitu banyak untuk apa ?. Argumennya untuk ikut memperjuangkan Bangsa Indonesia kearah yang lebih maju. Namun prateknya adalah justru menimbulkan inteleransi yang semakin tajam. Kita perhatikan diwaktu waktu Pilkada dan Pilpres. Belum lagi yang dilakukan oleh ormas-ormas lainnya. Kebebasan berpendapat selalu dikumandangkan. Namun hasilnya justru menghambat pembangunan dan kemajuan Negara dan Bangsa Indonesia.
Lalu solusi yang ditawarkan sdr. BAGONG memang benar, yaitu perlunya wadah wadah yang bisa dipakai untuk saling berdebat, saling berargumentasi agar perbedaan pendapat, dapat dimengerti dan diredam di dalam masyarakat.
Saya rasa saluran itu sudah banyak keberadaannya. Misalnya, acara-acara di media televisi, seminar-seminar nasional dll. Namun ? Hasilnya bagaimana.
Saya rasa, Pancasila, UUD’45 serta UU yang telah ada perlu disosialisasikan ke para pejabat Negara dan masyarakat . Serta diberlakukan secara tegas. Termasuk penindakan tegas terhadap kaum koruptor dan bandar narkoba. Karena dua masalah itu sangat mengganggu moral kita semua. Akibatnya keseimbangan sosial terkoyak dan menimbulkan intoleransi sesuai dengan kepentingan kelompok yang juga di picu dengan ambisi pribadi-pribadi untuk menjadi penguasa.(Budi Sampurno, Mak’skom,IPJT.22.7.19)


Senin, 18 Maret 2019


PANGKOARMADA II MELEPAS KAPAL DEWA RUCI

KACAMATAKOM. Hari Senin 18/3, Panglima Komando Armada II (Pangkoarmada II), Laksda TNI Mintoro Yulianto, melepas kapal latih legendaris KRI Dewaruci yang akan membawa Taruna AAL berlayar menuju Balikpapan, Kalimantan Timur. Acara pelepasan berlangsung di Dermaga Madura, Ujung,  Koarmada II, Senin.
Pelayaran KRI Dewaruci kali ini dalam rangka melaksanakan Latihan Praktek (Lattek) Pelayaran Prajalasesya Taruna dan Taruni Akademi Angkatan Laut (AAL)  Tk I angkatan ke-67 sebanyak 104 orang selama 14 hari. Pelayaran dimulai 18-31 Maret 2019 dengan rute pelayaran Surabaya-Kotabaru-Balikpapan-Surabaya.
Selama pelayaran para Taruna akan mempelajari  kehidupan dan tugas-tugas khas prajurit TNI AL di atas kapal perang dimulai dari dinas jaga laut seperti jaga anjungan, pengawas jaga, jaga kamar mesin, dan dinas jaga darat saat kapal berlabuh. Selain itu digelar pula latihan peran kebakaran, peran kebocoran, peran tempur, dan peran peninggalan. 
Hari itu, keheningan Dermaga Madura Koarmada II mendadak pecah dengan teriakan 104 Taruni/ Taruni atau Kadet AAL Tingkat I Angkatan ke-67 yang akan berlayar meneriakkan yel yel. Teriakan pembangkit semangat itu dilakukan sesaat sebelum para Kadet dilepas oleh Pangkoarmada II berlayar dengan KRI Dewaruci.

Usai meneriakkan YEL-YEL  yang begitu bersemangat,  para Kadet AAL menerima pengarahan dari Pangkoarmada II. Dalam pengarahannya disampaikan, bahwa sebagai generasi muda kalian harus memperlihatkan semangat sebagai seorang calon perwira TNI AL. Jangan loyo hanya karena padatnya aktivitas belajar dan latihan. Selain semangat, kalian juga harus penuhi diri kalian dengan beragam ilmu, motivasi dan inovasi,  agar kalian menjadi perwira yang tanggap, tanggon, dan trengginas. (budsam.kominfojatim.18.3.19)
Views 8

Jumat, 15 Maret 2019


PERTAMINA LAKUKAN PELATIHAN KERJA DI TUBAN

KACAMATAKOM.15/3. Selain menyumbang perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya, PT Pertamina (Persero) didirikan dengan tujuan untuk turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.
Hal itulah yang menjadi salah satu dasar bagi Pertamina, bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Tuban melaksanakan pelatihan untuk masyarakat di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.
Tahap pertama Pelatihan Calon Tenaga Kerja Proyek Pembangunan Kilang Minyak GRR Tuban ini, dilaksanakan di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Tuban pada Jumat (15/03) sampai Sabtu (16/03). Pelatihan dibuka langsung oleh Bupati Tuban H. Fathul Huda, didampingi VP Project HSSE MP2, Sahadi, dan Project Coordinator GRR Tuban, Kadek Ambhara Jaya.
Kadek mengatakan  bahwa tanggung jawab perusahaan terhadap komunitas/masyarakat dan lingkungan sekitarnya merupakan langkah penting. Apalagi saat ini, Pertamina sedang menyiapkan pembangunan proyek kilang GRR (Grass Root Refinery) di Tuban. “Dengan pelatihan ini, diharapkan masyarakat lebih terampil serta dapat terserap menjadi tenaga kerja yang siap untuk mendukung proyek Kilang Tuban, sehingga manfaat proyek tersebut tidak hanya dirasakan secara nasional, tetapi bisa memberi dampak positif langsung kepada masyarakat local.”
Pelatihan tersebut difokuskan bagi masyarakat di sekitar lokasi yang akan dibangun kilang, dan akan dilatih dalam tiga bidang khusus yang relevan. Bidang pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja yang diperlukan. Untuk tahap pertama ini, Pertamina memberikan pelatihan di bidang Safetyman, Security, dan K3 Dasar.
Ke-111 peserta terdiri dari pelatihan Safetyman (Pengawas Keselamatan) berjumlah 31 orang, peserta pelatihan Security (Tenaga Pengamanan) sejumlah 10 orang, dan peserta pelatihan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dasar sebanyak 70 orang. Diharapkan pelatihan keahlian yang dapat menjadi bekal berharga bagi penerima manfaat, bahkan setelah proyek Kilang GRR Tuban selesai, karena mereka sudah menjadi tenaga kerja siap pakai.
Sementara dalam sambutannya, Bupati Tuban menyampaikan bahwa pembangunan kilang di Tuban merupakan investasi yang dapat meningkatkan perekonomian Kabupaten Tuban, khususnya masyarakat sekitar kilang. Hal ini dapat dibuktikan dengan serapan tenaga kerja yang cukup banyak. "Kami berharap Pertamina selaku pemilik kilang agar dapat memberikan pelatihan kepada SDM lokal untuk meningkatkan kemampuannya sehingga menjadi kompeten dalam bidangnya. Kami juga memberikan apresiasi kepada Pertamina karena telah menunjukkan komitmen kepada masyarakat sekitar," ujar Fathul Huda.
Kilang minyak yang akan dibangun di Tuban adalah program strategis nasional. Sebab, kilang tersebut diharapkan bakal menjadi penopang pemenuhan kebutuhan energi, khususnya BBM di Indonesia. Pembangunan kilang ini nanti bisa mengurangi impor BBM. Sehingga akan mengurangi ketergantungan pada negara lain untuk menjaga ketahanan energi nasional. Kilang minyak Tuban ini direncanakan akan memiliki kapasitas produksi mencapai 300 ribu barel per hari, dengan kompleksitas kilang di atas 9 NCI (Nelson Complexity Index) dan karakteristik produk level Euro 5. (budsam.kominfojatim.15.3.19)
Views 431



SEKWAN KAB/KOTA HADIR DI SURABAYA
KACAMATAKOM 15/3.Kota Surabaya menjadi tuan rumah forum Asosiasi Sekretaris DPRD Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia (ASDEKSI) yang digelar di Hotel JW Marriot, pada hari ini.
Forum ini diikuti 1.100 orang yang terdiri dari 300 Sekwan dan jajaran lain dari 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, bertajuk Fasilitasi Sekretariat DPRD terhadap Penyusunan Peraturan Daerah dan Tata Laksana Rapat serta Penyusunan Laporan Kinerja Akhir Keanggotaan DPRD.
Forum ini dibuka Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini yang ditandai dengan pemukulan gong didampingi jajaran pengurus ASDEKSI dan narasumber yang akan mengisi workshop tersebut.
Dalam sambutannya, Wali Kota Risma menyambut hangat kedatangan ASDEKSI dan mempersilakan para tamu untuk berkeliling menyaksikan keindahan Kota Surabaya. Bahkan, ia pun bersedia memberikan fasilitas bus untuk membantu keliling para tamu selama berada di Kota Pahlawan.
“Atas nama Pemkot Surabaya dan warga Surabaya, kami mengucapkan selamat datang di kota kami tercinta, Kota Surabaya. Silakan nanti berputar-putar di Surabaya, dan Insya Allah Surabaya aman dan semuanya murah-murah, karena kalau ada yang mahal langsung saya buat pasar murah. Nanti saya coba carikan bus biar semua bisa keliling,” kata Wali Kota Risma dalam sambutannya.
Risma mengatakan, di Surabaya terdapat beberapa fasilitas publik yang bisa dinikmati oleh para peserta. Salah satunya yang bisa dinikmati adalah taman, termasuk Taman Harmoni yang merupakan bekas lahan TPA.
“Kami juga punya Wisata Kalimas, biasanya tamu saya senang kalau naik perahu di Kalimas. Di Surabaya juga ada Air Mancur Menari yang sangat indah. Monggo silahkan keliling-keliling mumpung di sini”.
Wali Kota Risma juga mengundang para peserta workshop nasional itu untuk hadir dalam acara festival Rujak Uleg yang akan digelar Minggu pagi (17/3/2019) di Jalan Kembang Jepung. Menurutnya, acara itu akan sangat meriah karena para pesertanya akan memakai kostum unik dan akan memecahkan dua Rekor MURI sekaligus.
 “Peran sekwan memang sangat strategis, karena akan menjadi jembatan antara legislatif dan eksekutif dan sayang sekali, kalau hubungan itu tidak bagus, maka akan berimbas pada masyakat. Jadi asosiasi ini bisa digunakan untuk saling belajar dan mengenal potensi masing-masing di wilayahnya,” tutur Wali Kota Risma.
Ketua Umum ASDEKSI Tri Puguh Priyadi mengatakan pertemuan kali ini dihadiri oleh 1.100 orang yang terdiri dari 300 Sekwan dan jajaran lain dari 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Ia memastikan bahwa antusias peserta untuk datang ke Surabaya sangat tinggi dan terbukti dengan banyaknya peserta yang hadir.
“Terlebih lagi, Kota Surabaya ini memiliki kemajuan pembangunan yang sangat pesat dari pada kota-kota lain di Indonesia dan merupakan kota terbesar kedua setelah Jakarta,” kata Puguh.
 Ia mengaku sudah berkeliling di Surabaya dan nyaris semuanya bagus penataan kotanya. (budsam.kominfojatim.15.3.19)