SDT. NGOBROL.33
BUDI
SAMPURNO.SEPT.2
NGOBROL “TEGA DAN BEJAD"
Setelah menyimpan sapu dan ikrak di
gudang, Wagiman cuci tangan serta kaki, langsung menuju teras menyusul
Wagiarti. Tangannya yang sudah bersih itu cekatan menggapai gelas berisi kopi.
WAGIARTI
: “ Pak…duduk dulu baru minum. Nggak baik minum sambil berdiri itu”.
WAGIMAN
: “ Ya..ya…Cantikku… Makasih selalu mengingatkan. He he he..ibu habis baca
apa kok serius gitu wajahnya”.
WAGIARTI
: “ Saya tadi baca kliping bapak, harian KEDAULATAN RAKYAT, Yogyakarta
tgl 5 Juni….Wih kok ngeri ya pak. Tapi sinyalemennya, pasti ya bener. Apalagi
di pakai dalam bahasan di Tajuk Rencana”.
WAGIMAN
: “ Tentang apa bu. Saya kok lupa”.
WAGIARTI
: “Ya lupa, wong kliping bapak itu sak tundun gunung gitu. Masalah
pelecehan terhadap anak-anak itu lho, pak.. Ngeri ya!”.
WAGIMAN
: “ O, ya . Bapak juga sudah baca. Itu tega dan bejad, bu”.
WAGIARTI
: “ Maksud bapak…?”
WAGIMAN
: “ Ya…sang pelakunya itu. Orangnya tegaan dan juga bejad moralnya!”.
WAGIARTI
: “ Di koran dikatakan, itu fenomena gunung es. Jumlah sebenarnya itu jauh lebih banyak dari yang terdata.
Karena yang jadi korban pelecehan sex ataupun pihak keluarga kebanyakan tidak
mau melapor. Malu, namanya tercemar dan juga karena ancaman pelaku.
WAGIMAN
: “ Bener juga, bu yang disampaikan di Tajuk harian KEDAULATAN RAKYAT .
Bapak yakini, data yang terungkap sebatas permukaan. Tapi sebenarnya pelecehan
sex, dari yang jadi korban atau sang pelaku tidak terungkap seluruhnya, pasti
jauh lebih banyak”.”
WAGIARTI
: “ Lho itu data resmi yang
dikeluarkan oleh Federasi Serikat Guru Indonesia DIY. Kok bapak bisa bilang gitu?”.
WAGIMAN
: “ Halah….kayak ibu nggak ingat saja. Tetangga sebelah kiri kita sampai
isterinya minta cerai… masak nggak ingat…..”.
WAGIARTI
: “ He he he… Ya!. Padahal isterinya cantik dan sexi, kok ya masih
tergiur sama pembantunya yang masih bau kencur”.
WAGIMAN
: “ Lalu yang sudah di data dan dilaporkan oleh Federasi Serikat Guru
Indonesia itu apa ya semua di proses secara hukum? . Kan nggak ada kabarnya
lagi. Kalau toh di proses, ya…hukumannya ringan”.
WAGIARTI
: “ Dan tidak dipublikasikan!!!. Apa lagi kalau pelaku berhasil mengajak
damai korban sak orangtuanya. Ya nggak bikin kapok!!!. Hakimnya juga begitu. Kata
pak Machmud MD, banyak markus yang mengelilingi para hakim. Ya… kalau hakimnya
jejeg tegak lurus, nggak terpengaruh. Tapi kalau hakimnya penceng…Ya mak
leg….suapannya di terima dan hukumannya diringankan”.
WAGIMAN
:” Tapi, hakim yang masih tegak lurus juga masih banyak lho, bu. Yang
positif berpikirnya, gitu lho…”.
WAGIARTI
:” Tapi kenyataannya, pak. Pelecehan sex masih marak. Salah satunya ya karena
hukumannya tidak berat. Terus di tiru sama orang lain….. Bapak jangan tiru lho
ya….!!!”.
Wagiarti ngomong begitu sambil berdiri,
berjalan cepat, berjinjit-jinjit dan tertawa ngiklik. Wagiman tersenyum,
melihat tingkah Wagiarti.(BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.5.9.2023)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar