Senin, 08 Juni 2020


Mak’skom
PERDA PERLINDUNGAN OBAT TRADISIONAL

KaKom.9,6.2020. DPRD Jawa Timur bersama Pemprov Jatim kini tengah membahas Perda Perlindungan Obat Tradisional. Perda ini diharapkan menjadi pijakan dalam pengembangan penggunaan obat herbal berstandar, terutama untuk menyiapkan obat herbal covid-19.  
Komisi E DPRD Jawa Timur sebagai pihak inisiator, Artono, menjelaskan produksi obat herbal di Jawa Timur sangat potensial. Salah satunya tersedianya bahan baku obat herbal. Mengutip data Kementerian Perdagangan tahun 2016-2017, sejumlah komoditi asal Jawa Timur menyumbang secara signifikan produksi nasional. Di antaranya, jahe (26,7 persen dari total nasional), kunyit (5,6 persen), laos (11,5 persen), hingga kencur (9,8 persen). 

Hal ini mengutip data Seksi Kefarmasian dan Alat Kesehatan serta Pembekalan Kesehatan Rumah Tangga (Alkes PKRT) Dinas Kesehatan Jawa Timur.  Yang mana, terdapat 18 Industri Obat Tradisional (IOT) dan 242 Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT). Belum lagi dengan jumlah Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA) dan Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT).  
Dengan besarnya potensi tersebut, Pemerintah perlu melakukan intervensi untuk pengembangan dan perlindungan. "Dalam hal ini untuk mengurangi ketergantungan terhadap obat kimia," kata Wakil Ketua Komisi E, Artono pada penjelasan hari Senin di Rapat Paripurna DPRD Jawa Timur.
Apalagi, saat ini dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19. "Seharusnya, ini menjadi momentum berharga," kata Artono. 
"Perda akan menjadi landasan untuk penelitian dan pengembangan terhadap obat tradisional. Sehingga, dapat menjadi fitofarmaka". 
Sehingga, Jawa Timur memiliki kemandirian penyediaan obat di masa depan.
"Cita-cita ini membutuhkan political will dan usaha besar serta sinergitas antara dunia usaha, akademisi, dan masyarakat," lanjutnya. 
Tak hanya menyiapkan produk obat herbal, Perda ini juga menjadi landasan pembentukan Rumah Sakit Herbal di Jawa Timur, pendirian Perusahaan Daerah yang memiliki usaha di bidang obat tradisional dengan berada di bawah BUMD Jatim. (Kominfojatim.Mak’skom.IPJT.9.6.2020)



Mak’skom     
WAGUB JATIM BERHARAP MASYARAKAT JATIM LEBIH KREATIF

Ka.Kom. 8.6.2020.Wakil Gubernur Jatim, Emil Elistianto Dardak mengharap dalam menuju New Normal, masyarakat lebih kreatif dan produktif . Hal itu disampaikan Wagub Jatim dalam  seminar online bersama Paguyuban Keluarga Ponorogo (Pawargo), hari Minggu kemarin.
Dikatakannya, ditengah era Artifisial Intelijen atau kecerdasan buatan tidak hanya membutuhkan orang pintar tetapi juga orang yang mempunyai kreativitas. “Kreativitas dalam mengkombinasikan antara kondisi otak dan kondisi suasana hati,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, dalam pelaksanaan menuju New Normal diperlukan dukungan masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Kesadaran masyarakat untuk mengamankan situasi, dengan tidak menciptakan kerumunan massa.
Dicontohkannya ada macam-macam bentuk transisi menuju normal, saat kegiatan sekolah dibuka diharapkan kapasitas murid agar dikurangi. Atau dengan menggunakan konsep mengurangi jam pelajaran agar murid tidak terlalu lama berada di luar rumah. Waktu jam istirahat, dihimbau untuk diperbolehkan makan didalam kelas, tidak lagi dikantin yang bisa menciptakan kerumunan murid-murid.
Sementara untuk ditempat kerja, menciptakan konsep produktivitas sudah bukan lagi pakai Fingerprint, masuk jam 8 pagi pulang jam 5 sore atau kalau orang itu harusnya pulang jam 5 tapi pulang jam 10 dia lebih rajin belum tentu produktivitas.
“Bukan menjauhkan kita dari produktivitas, karena saat ini teknologinya sudah memungkinkan. Dulu yang namanya kerja harus di tempat, tapi sekarang bisa pakai Virtual Private Network untuk koneksi yang bisa diakses oleh orang yang punya akses terenkripsi itu sekarang sudah bisa dilakukan,” tambahnya.
Menurutnya, pemberlakukan New Normal tidak bisa langsung diterapkan begitu saja, tapi perlu diujicoba pelan-pelan. Pasukan aparat TNI perlu diturunkan untuk membantu pengawalan new normal dan memastikan bahwa masyarakat sudah mematuhi sesuai prosedurnya.(Kominfojatim,Mak’skom.IPJT.8.6.2020)


Minggu, 07 Juni 2020



SUDUT KOMUNIKASI 13
PARTISIPASI  PARA PELAKU DALAM BERKOMUNIKASI
Komuniaksi berasal dari bahasa Latin, “ Communicare “ yang mempunyai arti “ berpartisipasi “ dan atau “ memberitahukan “. Komunikasi juga berasal dari kata “ communis “, yang mempunyai arti “ milik bersama “ dan atau “ berlaku di mana mana “
Onong Uchajana Effendi dalam bukunya “ Kamus Komunikasi “mendifinisikan komunikasi adalah  proses penyampaian suatu pesan dalam bentuk bentuk lambang lambang bermakna sebagai paduan pikiran dan perasaan ide, informasi, kepercayaan, harapan, himbauan dan sebagainya, yang dilakukan seseorang kepada orang lain, baik langsung secara tatap muka maupun tak langsung melalui media, dengan tujuan  mengubah sikap, pandangan atau perilaku..
Difinisi dari Everet M. Rogers, di kutip oleh Deddy Mulyana dalam buku berjudul Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar, yaitu : “ Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan  dari sumber kepada penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka “
Harold Laswell menjelaskan arti komunikasi dengan cara menjawab pertanyaan :Who Says What, In Which Channel, To Whom, With What Effect, atau Siapa mengatakan apa, Dengan Saluran Apa, Kepada Siapa, Dengan Pengaruh apa.
Dari pengertian dan beberapa difinisi tsb dapat disimpulkan bahwa komunikasi itu dapat dilakukan dengan diri sendiri. Dalam arti ketika kita sedang berpikir. Tetapi selebihnya setelah kita selesai berpikir dan hasil pikiran itu perlu diutarakan kepada siapapun, maka mulailah secara sengaja terjadi komunikasi dengan pihak lain. Dan setelah dikomunikasikan, maka harapan kita siapapun yang diajak berkomunikasi akan mengerti maksud kita dan meksanakan apa yang kita inginkan sesuai dengan pikiran kita . Jadi komuniksi itu akan lebih bermanfaat apabila ada pihak-pihak lain yang mau berpartisipasi untuk berkomunikasi. Apabila komunikasi berjalan lancar dan saling mengerti tentang isi komunikasinya dan melaksanakan sesuai tujuan berkomunikasi bersama tadi, maka dapat disimpulkan, bahwa komunikasi yang terjadi adalah komunkasi yang efektif. (Budi Sampurno, Mak’skom.IPJT, 7.6.2020)



Jumat, 05 Juni 2020



DELAPAN FUNGSI KELUARGA ATASI PANDEMI

Kakom 5,6,2020. Kepala BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Timur, Sukaryo Teguh Santoso, memberi arahan dengan mengajak seluruh keluarga di Jawa Timur untuk menjalankan Aksi 8 (delapan) Fungsi Keluarga untuk membentengi setiap anggota keluarga dari dampak pandemi. Delapan fungsi itu yakni agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi dan lingkungan.
Hal-hal yang dapat dilakukan dalam Keluarga untuk mengurangi dampak psikologis dari pandemi, yakni menerapkan pola hidup sehat, antara lain dengan memastikan setiap anggota keluarga memperoleh istirahat yang cukup, pastikan tiap anggota keluarga untuk berolahraga minimal 15-30 menit setiap harinya, dan memastikan tiap anggota keluarga memperoleh asupan nutrisi yang cukup dan bergizi seimbang, dengan mengkonsumsi nutrisi yang cukup, tubuh lebih sehat dan prima, pikiran menjadi kuat dan tenang,
"Bagi pengantin baru tetap merencanakan kehamilan dan atur jarak kelahiran dengan menggunakan alat kontrasepsi selama pandemi. Pasangan Usia Subur yang tidak menggunakan alat kontrasepsi, beresiko mengalami kehamilan yang tidak direncanakan atau kehamilan yang tidak diinginkan." ujar Sukaryo Teguh Santoso.
Menurutnya, kehamil tanpa persiapan tentu akan meningkatkan beban keluarga baik dari segi psikologis, dan ekonomi. Disamping itu kehamilan selama masa pandemi sangat beresiko bagi ibu dan janin, selain berdampak pada psikologis ibu akibat kecemasan dikarenakan hamil dimasa pandemi, juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi ibu dan janin. 
"Untuk itu upayakan tetap ber-KB di masa pandemi. Dengan membuat janji terlebih dahulu dengan Bidan atau Dokter praktik," tuturnya.
Lebih lanjut Sukaryo Teguh Santoso mengatakan dalam Upaya menuju New Normal setiap anggota keluarga perlu saling mengingatkan. Terutaama dalam Penerapan disiplin tinggi dalam protokol Kesehatan. Seperti penerapan Pola hidup bersih dan sehat dengan cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer dan penggunaan masker, pelaksanaan physical distancing, makan asupan bergizi, olahraga teratur dan cukup istirahat, pelaporan kasus secara mandiri, serta menerapkan karantina mandiri bila mengalami gejala ringan.
"Menuju New Normal, perlu proses adaptasi dengan berbagai perubahan pola hidup, kebijakan dan aturan sesuai perkembangan Covid-19.
Diantaranya adanya optimalisasi teknologi digital, dan pelaksanaan protokol Covid-19 secara konsisten.  Setiap anggota keluarga harus saling memberikan  dukungan yang diperlukan untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan perubahan yang terjadi selama pandemi.(Kominfojatim,Mak’skom.IPJT.5.6.2020)




Sabtu, 25 April 2020


SUDUT PERTEKOM 3.
AWALAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUIKASI

Seperti yang dikatakan oleh YB.Wahyudi, bahwa “ teknologi komunikasi merupakan perakat yang mampu mendukung percepatan dan meningkatkan kwalitas komunikasi.  Karena terjadi peningkatan dan percepatan komunikasi dan semakin canggihnya peralatan telekomunikasi maka pada akhirnya meniadakan jarak ruang dan waktu antara dua tempat dimuka bumi serta antara bumi dan  ruang angkasa”, tentunya perkembangan tehnologi di bidang komunikasi tidak serta merta atau mendadak terpampang di hadapan kita dan sekaligus bisa kita manfaatkan. Tetapi tentunya melalui beberapa dasar peristiwa atau tahapan dalam  perkembangannya.
Kalau menurut sejarahnya, manusia berkomunikasi pada awalnya adalah dengan suara dan kode-kode yang masing-masing bisa dipahami oleh kedua belah pihak yang berkomunikasi dan di saat atau waktu yang sama. Tetapi pada selanjutnya manusia dapat berkomunikasi secara tidak langsung melalui gambar-gambar. Yang konon banyak terdapat di dalam gua-gua.
Lalu apa yang mendasari perkembangan tehnologi komunikasi sampai seperti sekarang ini. Beberapa ahli komunikasi mengatakan, bahwa perkembangan itu melalui beberapa revolusi, yaitu revolusi politik, revolusi pendidikan, revolusi pertanian dan revolusi  industri. (Budi Sampurno.Mak’skom.IPJT.25.4.2020)



Jumat, 24 April 2020


SUDUT PERTEKOM 2

PENGERTIAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI
Banyak orang berbicara tentang kemajuan teknologi, dan memang sangat cepat perkebangannya, sehingga bagi mereka yang benar benar tidak mengikuti akan tertinggal jauh. Baik sebagai praktisi ataupun mereka yang hanya sekedar memahami sebagai ilmu pengetahuan. Dalam kaitan dengan komunikasi, teknologi ini membawa perkembngan pula pada mutu dan percepatan komunikasi. Dan para ahli mengatakan bahwa perkembangan ini lazimnya di sebut dengan perkembangan teknologi komunikasi.
Lalu apa yang di sebut teknologi komunikasi. Beberapa ahli mengatakan , seperti Onong Uchyana Effendi dalam Kamus Komunikasi, _”teknologi komunikasi, adalah kemampuan teknik berdasarkan ilmu pengetahuan mengenai proses berlangsungnya komunikasi melalui media massa”.
Sedangkan Y B Wahyudi mengatakan, bahwa “ teknologi komunikasi merupakan perakat yang mampu mendukung percepatan dan meningkatkan kwalitas komunikasi.  Karena terjadi peningkatan dan percepatan komunikasi dan semakin canggihnya peralatan telekomunikasi maka pada akhirnya meniadakan jarak ruang dan waktu antara dua tempat dimuka bumi serta antara bumi dan  ruang angkasa”.
Sejalan dengan itu, Teknologi Komunikasi bagi Evert M Rogers, 1986,  adalah peralatan perakat keras, struktur struktur organisasional dan nilai nilai sosial dengan mana individu mengumpulkan, mengolah dan saling bertukar informasi dengan individu lain”
Maka tidaklahmengherankan, bahwa suatu peristiwa yang nara sumbernya jauh dari suatu lembaga penyiaran, tetapi seleruh Indonesia pada saat yang sama sudah dapat mendengarkan dan melihat peristiwa tsb, meskipun dari layar kaca televisi.(Budi Sampurno,Mak’skom,IPJT,24.4.2020)




Rabu, 22 April 2020


SUDUT PERTEKOM 1.
PENGERTIAN TEKNOLOGI

Teknologi berasal dari kata “teknik” dan dalam Kamus Pintar Bahasa Indoesia, teknik berarti “cara“ atau “pengetahuan tentang atau hal yang berhubungan dengan permesinan. Dan “teknologi “ diartikan sebagai “ilmu tentang teknik“.
Menurut Onong Uchjana Effendi  tehnologi berasal dari  bahasa Yunani “Tecnologia “ artinya, tindakan yang sistematis.
Catatan lain menyebutkan teknologi berasal dari kata techne, yang berarti seni kerajinan. Dari kata techne, lahirlah kemudian kata technikos yang diartikan sebagai seseoang yang memiliki ketrampilan tertentu  serta memiliki pola tetap, langkah dan metode yang pasti, maka ketrampiln itu menjadi teknik
Ada pula yg mengartikan bahwa teknologi bisa berarti dua pengertian, yaitu “perakat keras”, dalam arti subyek materialnya atau bentuk pisiknya. Kedua, teknologi sebagai ”Perakat Lunak”, yaitu informasi tentang perakat keras dimaksud. Jadi orang dapat mempergunakan atau mengoperasikan perakat keras tersebut setelah mendapat informasi dari perakat lunaknya.
Teknologi mempunyai pengaruh baik, apabila hasil menemuan tehnologi tersebut, bermanfaat bagi kehidupan manusia berserta seluruh alamnya.Dan manakala menimbulkan kerusakan serta tidak bermanfaat lagi bagi kehidupan manusia berserta seluruh alamnya, maka disebut memiliki pengaruh buruk. Baik dan buruknya penemuan teknologi akan sangat tergantung dari manusia yg mempergunakan.
Muchtar Lubis mengatakan, bahwa teknologi itu merupakan anak kandung dari kebudayaan, karena pengertian kebudayaan adalah apa saja yang dipikirkan dan dilakukan oleh manusia, termasuk segala peralatan yang dipergunakan
Victor Ferkiss berpendapat, bahwa manusia itu merupakan “ binatang teknologi”.  Binatang juga sangat mengenal teknologi, misalnya burung ketika akan bertelur pasti membuat sarangnya. Dan setiap  binatang punya selera masing-masing dalam membuat sarangnya. Sarang tawon madu akan berbeda dengan sarang tawon tawon lainnya.(Budi Sampurno.Mak’skom.IPJT.22/4/2020)