Kamis, 10 November 2022

 

 

SDT.SASTRA.27

BUDI SAMPURNO.NOP.2


MBAH DIMAN TERBANG BERSAYAP MALAM.

Hari Minggu ini tgl. 6 Nopember 2022, Harian KOMPAS membuat saya tergelitik, karena memuat sebuah cerpen yang berbau kejawen. Di tulis oleh AHIMSA MARGA. Dia adalah wartawan senior yang sebenarnya bernama MARIA HARTININGSIH. Di masanya di kenal sebagai sosok yang gigih memperjuangkan hak-hak azasi manusia, terutama bagi anak, perempuan,  dan kelompok yang dimarjinalkan. Pernah mendapat penghargaan YAP THIAM HIEN di bidang edukasi HAM di tahun 2003. Judul cerpennya terdengar sangat puitis “MBAH DIMAN TERBANG BERSAYAP MALAM”

Cerpen ini juga dilengkapi illustrasi oleh LAKSMI SHITARESMI . Sudah sering dia mengadakan pameran tunggal di dalam negeri dan di luar negeri. Antara lain di Jepang dan di Chile.

Dalam cerpen ini, tokoh “Aku” mendapat tugas dari keluarga untuk ngopeni rumah warisan dari Ibu. Tapi “Aku” tinggal di luar kota, maka yang dipasrahi atau dititipi menjaga serta merawat rumah almarhumah Ibu adalah Pardi dan keluarganya. Suatu ketika “Aku” menengok rumah Ibu, Pardi melapor dan meminta ijin dan ini yang menjadi pembuka cerpen AHIMSA MARGA :

 

“Bude, ini mbah Diman”, ujar Pardi, anak tetangga yang di anggap mendiang ibuku sebagai cucunya. Aku menitipkan rumah ibu kepada Pardi dan keluarganya, untuk dijaga dan dirawat.” Saya minta maaf, lancang, tidak bilang sama bude dulu. Tapi boleh, ya Mbah Diman tinggal disini sekalian jaga rumah”.

Tubuh tua itu sedikit membungkuk, lalu kedua telapak tangannya ditangkupkan, memandangku dengan tatapan teduh.

Menurut Pardi, diizinkan tinggal di tumah itu adalah berkah bagi Mbah Diman setelah beberapa tahun harus pindah dari tempat ke satu ke tampat lain di rumah-rumah mereka yang katanya kerabat. Ketika tak ada lagi yang mau menampungnya, Mbah Diman tidur di pos-pos ronda. Tapi bagiku, kehadirannnya adalah berkah. Kuyakini tidak ada kebetulan di dunia ini.

Kehadiran Mbah Diman di rumah almarhumah Ibu membawa kesan tersendiri terhadap “Aku” dan pada suatu saat, Mbah Diman berbicara :

“ Nduk, Mbah sering membersihkan kamar ibumu. Boleh kan…”

“ Mbah berani masuk kamar itu karena ibumu yang minta kamarnya dibersihkan”, sambungnya sebelum sempat kujawab.

Aku tertegun. Kupandang wajahnya dengan mata berkaca-kaca, bukan karena urusan kamar ibu, tetapi dari wajah itu aku melihat kilasan gambar tentang hidupnya.

Dia seperti membaca pikiranku

“ Mbah tidak apa-apa, Ndhuk. Terima kasih sekali sudah boleh numpang di sini”. Dia melanjutkan, “Hidup ini cuma harus dijalani, tidak usah banyak tanya karena banyak hal tidak butuh jawaban”.

Aaah….aku seperti mendengar suara ibuku.

Tapi, aku bergeming, malah terus berusaha memenuhi rasa ingin tahuku.

Mbah tidak marah pada nasib?. Tidak benci pada mereka yang jahat pada Mbah?.

 “ Lha buat apa, Nduk…” jawabnya, terkesan ringan dengan nada suara rendah. “ Wong nandur, ngundhuh, utang , mbayar”. Yang nenanam, menuai, yang utang harus bayar, katanya. “ Mungkin, entah kapan, Mbah juga pernah nandur barang jelek, pernah utang tapi ngemplang, nggak pernah bayar…. Semua harus di bayar, Ndhuk, kapanpun waktunya”.

“Aku” mendengarkan terus apa yang dibicarakan Mbah Diman, ini benar-benar memberi makna yang dalam tentang kehidupan manusia. Pemahaman kehidupan disampaikan :

“ Senang susah itu hanya istilah Ndhuk. Seperti pagi dan sore, fajar dan senja, panas dingin…semua itu kelengkapan hidup, terus berputar, tidak ada yang tetap. Semua hanya ada pada satu kedipan mata. Jadi, mau direndahkan, di hina, di cerca, ibaratnya di lempar kotoran, ya wis, tak tampa wae, saya terima saja. Mbah hanya  menjalani yang harus dijalani. Tidak kurang, tidak lebih”.

Tokoh si “Aku” merasa menjadi lebih dekat dengan sosok Mbah Diman : Entah mulai kapan terbersit keinginan untuk selalu menjumpainya. Secara perlahan, aku merasa menemukan ibuku dalam sosok renta ini.

Meski dadaku selalu berpasir setiap kali menyimaknya, mata batinku semakin terang benderang.

Penulis AHIMSA MARGA memberi kesan, bahwa ternyata Mbah Diman itu punya selera yang cukup tinggi dalam hal menikmati musik, karena “Aku” pernah memergoki :

Pernah suatu saat, tanpa memberi tahu, aku datang begitu saja. Ketika wajah sejuk itu muncul dari balik pintu, kudengar denting piano dari sepotong “Spring Waltz” nya Chopin, sebelum dia buru-buru minta izin untuk kekamarnya, dan musik lembut segera di sapu denyut sepi di ruang tamu.

“ Kok dimatikan, Mbah?. Saya suka…”

Mbah Diman hanya tersenyum

Dalam memenuhi kebutuhan hidup phisiknya Mbah Diman juga amat sederhana :

Mbah Diman hanya makan umbi-umbian dan dedaunan tanpa garam. Dia tidak merokok, tidak minum kopi, teh, gula, hanya air panas. Dia jengah ketika kusebut pilihan itu sebagai “puasa” atau “tirakat”.

“ Cuma kebiasaan, Ndhuk. Ngleremaken ingkang wonten ngriki, ujarnya sambil menaruh ke dua telapak tangannya ke dada. Menenangkan yang di dalam ini, katanya.

Saya sebagai pembaca memberanikan diri untuk mengatakan, bahwa sosok Mbah Diman adalah sosok yang menjabarkan dengan jelas gamblang arti kehidupan manusia. Kedekatan batin tokoh “Aku” menjadi lebih gamblang lagi diceriterakan oleh AHIMSA MARGA  dalam penutup cerpennya:

Semalam aku bermimpi, menjumpainya di suatu padang yang sangat lapang. Dia tampak segar. Wajahnya bersih, berseri. Aku lupa dia bicara apa, kecuali “Nduk, gaman hidup ini hanyalah tekad untuk terus berjalan ke depan, menempatkan yang sudah lewat, dibelakang. Ilmunya pasrah, berserah. Mantranya keadilan dari Sang Pemberi Hidup. Pangeran Ingkang Paring Gesang.

Sebuah kereta sudah menunggunya.

“ Terima kasih sekali sudah bersedia menampung Simbah. Simbah berangkat ya. Andum slamet, Nduk….”.

Kereta melesat. Aku tergagap bangun, subuh. Mataku basah.

Selama beberapa pekan ini tak kudengar kabar Mbah Diman. Semoga dia baik-baik saja. “ Bulan depan aku datang Mbah…., “ bisikku.

Pagi itu seperti biasa, ku buka Whasapp.

Dari Pardi, “ Bude, Mbah Diman sampun kondur, semalam, pukul 23.55”.

Bagi saya cerpen AHIMSA MARGA  ini memberikan pesan moral yang kuat. Sering kita dengar dalam piwulang manusia Jawa. Manusia hidup di dunia ini memang tidak selamanya. Hanya sebentar, ” Mampir ngombe”. Oleh karenanya, untuk sangu hidup di alam “sana”, harus punya bekal. Makanya hidup ini harus dijalani dengan sabar, ikhlas dan mensyukuri apa adanya yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Kita harus pasrah, tetapi juga harus selalu berusaha untuk kesempurnaan hidup.

Dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup, pasti pernah punya salah, oleh karenanya pasti pada suatu saat akan memperoleh seperti yang dikatakan oleh Mbah Diman. Wong nandur, ngunduh, utang mbayar. Yang menanam, menuai, yang utang harus bayar. Mungkin entah kapan Mbah juga pernah nandur barang jelek, pernah utang tapi ngemplang, nggak pernah bayar. Namun itu semua harus di bayar, kapanpun waktunya. Hidup ini cuma harus dijalani, tidak usah banyak tanya karena banyak hal tidak butuh jawaban.

Dan memang manusia itu hanyalah “wayang”. Jadi kesemuanya tergantung pada Sang Pencipta. Kita tidak bisa membantah. (BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.10.11.2022)

 

 

Sabtu, 05 November 2022

 

SDT.SASTRA.26

BUDI SAMPURNO.Nop.1


PILIHAN BAPAK : KELUARGA RUWET

Seperti biasa harian KOMPAS di hari Minggu pasti memuat cerita pendek. Kali ini karya ATTA VERIN yang di pilih, berjudul PILIHAN BAPAK. Di muat tgl 4 September 2022.  Penulis tinggal di Ponggok, Klaten, Jawa Tengah. Dan dibuatkan ilustrasi oleh THOMAS ARI KRISTIANTO, pengajar desain di ITS.

Cerpen di buka dengan pendahuluan: “ Kamu punya pilihan untuk membenciku seumur hidupmu atau tetap mencintaiku seperti saat kamu kecil dulu. Pesan singkat itu menjadi alasan aku memutuskan untuk mengunjunginya di penjara dua hari menjelang dia dieksekusi. Sebelumnya, aku tak mau bertemu dengannya meskipun dia mengiba-iba ingin memandangi wajah cucu-cucunya untuk terakhir kalinya “.

     Cerpen ini menjabarkan suatu keadaan satu keluarga yang ruwet. Ada bapak, ibu, dan empat orang anaknya. Paskal anak pertama, Sidik anak kedua, Widi anak ke tiga dan Jenar anak ke empat. Ibu dan ke empat anaknya digambarkan sangat membenci bapaknya dengan kadar kebencian yang berbeda-beda. Bapaknya di anggap sebagai pembunuh ibunya. Tercermin dalam kalimat yang disusun dengan apik oleh ATTA VERIN :

     Aku tak bisa memaafkan malam terkutuk  ketika Bapak membiarkan ibu merangkak ke dapur. Ibu sakit parah sehingga tak mampu berjalan sendiri dan waktu itu di rumah hanya ada Bapak. Rekaman CCTV rumah memperlihatkan Ibu memanggil-manggil Bapak di kamarnya—mungkin berteriak, tapi tentu saja CCTV tidak memunculkan suara apapun—dan Bapak tak juga keluar. Ibu lalu merangkak sendiri dari ranjangnya menuju dapur, mungkin untuk mengambil air minum. Sebelum sampai ke dapur, salah satu kakinya menabrak kaki penyangga TV di ruang tengah. Kotak pelantang yang besar dan berat itu jatuh tepat di kepala  Ibu.

     Di ruang gawat darurat Bapak menghampiri Ibu untuk membacakan Surat Yasin, tetapi Ibu hanya menatap wajah Bapak dengan sorot kebencian, lalu memalingkan wajah. Sampai akhir hayatnya, Ibu tak pernah memaafkan Bapak.

    Tiga bulan setelah kami menguburkan Ibu, Bapak di tangkap polisi karena membunuh seorang janda kaya. Berita di media massa menyebut Bapak sebagai pembunuh keji berdarah dingin. Bapak kemudian dijatuhi hukuman mati.

ATTA VERIN mempertunjukkan kebencian dengan kadar yang berbeda satu persatu anaknya kepada bapaknya sbb:

       Abang sulungku itu yang paling memusuhi Bapak setelah Ibu wafat. Dia berpikir Bapak sengaja tidak keluar kamar, sehingga ibu terpaksa merangkak dan kejatuhan pelantang suara yang menyebabkan kematiannya. Diantara kami berempat, hanya mas Pakal yang secara frontal menunjukkan kemarahannya.

“Bapak sudah lama tidak cinta lagi sama ibu. Bapak pasti punya simpanan. Gelagatnya jelas begitu. Bapak pasti sengaja membiarkan ibu merangkak”

Ketika mendengar Bapaknya mau di hukum tembak mati, Paskal pun berkata: “ Semoga tak langsung mati. Kuharap dia merasakan dulu kesakitan yang lebih sakit dari rasa sakit yang di derita ibu!”.

     Anak kedua, Sidik, melihat situasi dan kondisi orang tuanya hanya berkomentar : Kalau soal pisah kamar itu karena keduanya saling  tidak nyaman.  Bapak tidak nyaman tidur di kamar dekat pintu gerbang masuk yang menurutnya berisik. Sementara Ibu tak nyaman tidur di kamar yang gelap dan sunyi. Jadi bukan karena keduanya saling berkhianat.

     Anak terakhir, Jenar lain lagi. Dia pernah berkata:” Mbak tahu apa artinya lahir dari dua orang yang tak saling mencintai?. Artinya kita lahir hanya karena nafsu kebinatangan”. Lalu Jenar merobek foto Bapak dan Ibu yang di simpan dalam dompetnya. Dia lalu memasukkan potongan foto Ibu kembali ke dalam dompetnya. “ Aku tak akan pernah memaafkan Bapak!, katanya lagi.

    Widi anak perempuan yang ke tiga, ketika mendapat pesan singkat dari bapaknya kalau akan segera di hukum tembak mati, melalui HP petugas lapas, menyempatkan berkunjung ke lapas.

     Widi, anak perempuan yang ditokohkan dalam cerpen ini, menunggu di ruang tunggu lapas, dan keluarlah lelaki tua menghampirinya dengan kedua tangan terentang akan memeluk. Widi tidak meladeni, menghindar pelukan lelaki tua yang juga bapaknya.

Pembicaraan antara bapak dan anak, membuat saya sebagai pembaca, cukup terkejut. ATTA VERIN membuat puncak drama ceritera ini dengan menuliskan, sbb:

        “Bapak akan mati dua hari lagi. Ini kesempatan terakhir Bapak untuk berbicara kepadamu. Sampaikan apa yang bapak katakan ini kepada saudara-saudaramu, Nak…”.

Lelaki tua itu meneteskan air mata, tetapi tak terdengar isakan.

“ Ketika Paskal berusia tiga tahun, Bapak dan Ibu sempat berpisah. Kami tinggal di dua kota yang berbeda. Ibumu meninggalkan Bapak karena Bapak tidak  mau menjadi pegawai negeri seperti yang dia inginkan. Bapak malah ikut pertunjukkan keliling, menikmati kehidupan sebagai pemain kendang. Bapak menyukainya meskipun uangnya sedikit. Ibumu bertemu mantan kekasihnya, lalu mengandung Sidik. Tetapi, tiga bulan setelah kelahiran Sidik, mantan pacar ibumu itu meninggal karena kecelakaan…”.

     Aku tercekat. Ternyata Mas Sidik dan mas Paskal berbeda bapak. Tak ada yang mengetahuinya selama ini. Tiada satu gunjingan pun.

Ibumu kembali kepadaku, lalu aku bekerja di pabrik dan memawarisi kebun jeruk dari kakekmu. Tetapi, aku sulit memaafkan pengkhianatannya. Aku jadi sering bertengkar dengan ibumu. Kami berusaha memperbaiki keadaan. Kami berpikir mengadopsimu sejak bayi dari panti asuhan adalah salah satu cara untuk memperbaiki  hubungan kami. Aku selalu menginginkan anak perempuan.

     Kini aku merasa dunia disekitarku runtuh. Aku tak mampu mencerna semuanya dengan baik selain menelan kenyataaan bahwa aku sesungguhnya anak pungut di keluarga ini.

    “ Namun, Tuhan Maha Baik, Widi. Setelah kamu berumur dua tahun, ibumu mengandung adikmu. Aku mulai memaafkan ibumu dan merasa bahagia dengan ke empat anakku. Tetapi, ibumu berpikir lain. Dia mengira aku tak setia dan mencurigai perubahan sikapku. Dia berpikir aku mesra lagi karena aku telah membalas dendam dengan berselingkuh. Kami sering bertengkar lagi. Ibumu di sandera perasaan bersalahnya sendiri. Itu tak saja menghukum dirinya, tetapi juga menghukumku….”.

     Setelah dilaksanakan hukuman mati dengan di tembak, ke tiga anaknya tidak ada yang mau mengurusi pemakamannya. Jadi, Widi yang mengurusui semuanya.

Dipenutup cerpen ini, barulah ATTA VARIN membuka siapakah atau kena apa ibu mereka meninggal setelah tertimpa pelantang tv yang jatuh persis dikepalanya. Inilah penutup yang sekaligus menjawab kematian itu.

       Petugas lapas menyerahkan barang-barang pribadi Bapak di dalam kantong plastik hitam. Di dalamnya ada head-phone putih besar kado ulang tahun dariku sembilan tahun lalu. Aku memberi Bapak benda itu agar dia bisa mendengarkan musik kesukaannya tanpa membuat orang disekitarnya terganggu. Ibu tak menyukai musik jazz.

Di bagian dalam lengkungan putih headphone itu terbaca tulisan “Bapak sedang mendengarkan Chick Corea waktu ibumu memanggilku pada hari naas itu. Maafkan Bapak karena tak mendengar teriakan ibumu”.(BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.5.11.2022)

 

 

 

 

 

Kamis, 27 Oktober 2022

 

 

SDT.SASTRA.25

BUDI SAMPURNO.OKT.2

RAHASIA WINA DAN KUBURAN MARMER.

     Kali ini harian JAWA POS memuat cerpen ringan dengan latar belakang dunia anak-anak yang sangat kometmen dengan penumpahan rasa kasih sayang seorang anak kepada ibunya. Cerpen ini adalah karya HASAN ASPAHANI dan di muat pada hari Sabtu, tgl. 22 Oktober 2022. Penulis kelahiran th. 1971 di Sei Raden, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Sekarang menetap di Jakarta, berkhidmat di Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Novelnya yang sudah terbit “Ya.Aku lari”, “Laut Semua Suara” dan “Persimpangan”.

Membaca cerpen ini karena judulnya RAHASIA WINA DAN KUBURAN MARMER, saya menduga ada arah ke mistis. Karena judulnya di beri kata KUBURAN MARMER. Apalagi di beri ilustrasi gambar masjid tua oleh BUDIONO. Tetapi setelah membaca semua sampai tuntas, dugaan itu ternyata sangat jauh dari kebenaran.

Cerpen ini ternyata berkisah tentang anak-anak sekolah yang berjualan disekolahnya. Wina dan “Aku”. Dan di buka dengan : Jangan cari masalah dengan Wina. Jangan bikin gara-gara dengan dia. Dia anak perempuan yang manis dan pintar, tetapi perangainya keras. Makanya, jangan cari masalah dan bikin gara-gara dengan dia. Nanti kau akan seperti Zainul yang di cakar Wina wajahnya, membekaskan luka memanjang di pipinya. Saya kira Zainul memang keterlaluan. Kawan sekelas kami itu sebenarnya lebih tua dua atau tiga tahun di atas kami. Dia lekas akil baliq. Kami masih kanak-kanak, dia sudah remaja. Pikirannya mulai lain kepada teman-teman perempuan. Mulai gatal tanduk. Zainul  suka sama Wina.

Zainul mendekati Wina dengan membeli dagangan Wina. Sebagai pedagang dia bisa baik pada siapa saja. Wina berdagang bermacam-macam di sekolah Arab. Sekolah khusus belajar agama sore hari. Sekolah kami itu ada di seberang masjid jamik, persis di depan kuburan. Kalau kami buka jendela kelas, terhampar kuburan datu-datu kami, lalu nun di- ujung sana rumah nelayan dengan tiang -tiang tinggi di pantai, lalu pohon bakau, lalu laut.

     Pembuka cerpen itu tergambarlah Wina anak yang baik, tetapi bisa berubah menjadi sangar dan melukai membekas memanjang pipi Zainul. Diceritakan, bahwa ketika sore hari habis main voli,  Zainul beli minuman sirup manis. Bentuk plastiknya yang memanjang

Itu membuat imajinasi Zainul jadi liar. Saya kira dia bercanda Ketika memperagakan gerakan tak senonoh dengan sirup itu dihadapan Wina. Wina murka. Ia terjang Zainul. Ia cakar wajahnya. Tiga garis luka berjajar panjang mengalirkan darah di wajah Zainul. Karena dia tahu salah, Zainul tak melawan.

Sejak saat itu, terkenal peringatan jangan macam-macan sama Wina.

“Aku” dan Wina sama-sama berdagang di sekolahan dan sering barter beli dagangan. Perdagangan barter kami berjalan lancar. Sampai suatu hari Wina menawarkan  satu skema yang penuh rahasia. Dia mengajak aku bicara berdua di belakang sekolah, di pendapa kuburan.

“ Begini, kita tetap barter tiap hari. Kamu ambil satu jualanku, aku ambil satu jualanmu,  kata Wina.

“ Kan biasanya juga begitu!?”

“ Nah ini yang beda. Aku tak ambil jatahku itu. Kamu jualkan saja. Simpan uangnya…Paham ya ?”

“ Paham”, kataku. “Tapi kenapa aku harus simpan uangnya ? Kan bisa titip ke Ani, sepupumu, atau sama kakakmu?”

“Ani tak bisa simpan rahasia. Di rumah?. Justru aku tak mau ada saudaraku yang tahu. Ini sementara. Sampai jumlah tertentu. Terus kamu simpankan. Pada waktunya aku perlu. Aku ambil….”kata Wina

“ Uang ini buat apa ?”

“ Sudah , tolong simpan saja. Nanti kamu juga tahu…”

Sebenarnya “aku” agak ragu, karena untuk menyimpan uang itu di rumah, bukan hal yang gampang, karena terikat janji, orang lain tidak boleh tahu. Untung  "aku" punya akal, uang Wina dikumpulkan di saputangan. Dan ketika di tanya sama Wina, dijawabnya bahwa uangnya aman.

Namun di luar perhitungan, terjadi keteledoran dan uang simpanan Wina itu di temu sama mamaknya. Ketika pulang sore hari, langsung diinterograsi sama mamanya. Sang Aku gelagapan. Sang mamak benar-benar marah. Inilah interogasinya:

“ San, ini uang apa? Kamu curi uang mama ya”.

“ Bukan, Ma. Itu uang….”. Aku tak bisa melanjutkan penjelasanku.

“ Uang apa?. Kamu jangan mencuri uang mama ya. Mentang-mentang mamamu ini tak bisa menulis dan membaca”, kata mamaku. Matanya berair, terdesak perasaan marah, kesal, dan sakit hati karena merasa diakali anaknya.

“ Bukan Ma, Itu uang Wina…”

“ Uang Wina?. Uang apa?. Kamu bawa-bawa  nama temanmu lagi….”

Mama marah besar. Percuma saya jelaskan, dia tak akan percaya. Satu-satunya cara hanya minta Wina yang bicara langsung.  

"Aku" pun kaget, karena itu mengkhianati perjanjiannya dengan Wina. Kan janjinya tidak akan ngomong kepada siapapun. Bayangan Wina ngamuk dan mencakar wajah seperti kejadian Zainul, menyeruak di kepala.

“ Mama tunggu. Aku panggil Wina….”, kataku.

"Aku" nekad masuk rumah Wina. Wina kaget.

“ Aduh, ngapain kamu ke sini?”, katanya sewot, matanya membesar marah. Seram.

Setelah dijelaskan persoalan dengan mama, Wina mau datang ke rumah.

Membaca cerpen HASAN ASPAHANI, ternyata dia membangun dua konflik. Konflik sang Aku dengan Wina dan konflik sang Aku dengan mamanya.

HASAN ASPAHANI menyelesaikan dua konflik ini dengan manis.

Setalah Wina datang dan ketemu mama dan bapak:

“ Mamamu orang baik banget. Aku belajar bikin dan masak nasi kuning yang enak sama dia”, kata mamaku

Dan inilah rahasia Wina dan uang yang ia titipkan padaku itu. Ia ingin membeli kuburan marmer untuk nisan kayu ulin di makam mamanya. Tapi setelah di hitung uang Wina belum cukup. Spontan uang "Aku" ditambahkan.

Bapakku lantas mengambil uang itu. Ia tahu itu masih kurang.

“ Bapakmu itu juga guruku, guru ngajiku”, kata bapakku

“ Rasanya sebagai murid belum pernah aku membalas jasanya. Bapakmu tidak tahu, Win?”

“ Tak apa-apa, nanti aku yang bicara sama bapakmu. Besok saya pasangkan. Kamu pilih aja yang mana. Tulis nama mamamu dan bintinya ya, nanti diukirkan di batunya”, kata bapakku.

Maniskan HASAN ASPAHANI menyelesaikan konfliknya. Tapi dalam hati saya berguman, kok seperti serba kebetulan ya ! .(BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.27 Okt.2022)

 

 

Senin, 03 Oktober 2022

 

SDT.SASTRA.24

BUDI SAMPURNO.OKTB.1


BINAR YANG MEMUDAR DARI MATANYA.

Biasa saya baca dulu judul-judul berita di Harian KOMPAS terbitan hari Minggu, tanggal 2 Oktober 2022. Setelah saya anggap cukup, segera saya cari cerpen yang di muat. Saya temukan di hal.11. Saya baca ccpat dan tuntas. Ini cerpen yang bagus. Pesan moralnya kuat, tapi memang harus berpikir dahulu untuk bisa mencerna makna dari cerpen tsb.

Di tulis oleh sdr. RIZQI TURAMA, seorang dosen di Universitas Sriwijaya, kelahiran Palembang 4 April 1990 ( huuu..masih muda sekali…). Th 2016 ikut workshop cerpen di KOMPAS, serta memenangi lomba penulisan cerpen. Di lengkapi ilustrasi oleh Sdr. MADE SOMADITA.

Secara halus, sdr. RIZQI TURAMA membuka dengan rentetan kalimat-kalimat:

Dari tiga anak Ibu, akulah satu-satunya anak yang gagal. Kakak pertama sudah jadi manajer di sebuah perusahaan multinasional. Rumahnya besar dengan tiga mobil mewah berjajar di garasi. Kakakku yang kedua bekerja di tambang minyak. Ia pulang ke rumah sebulan sekali. Di saat itu ia hampir selalu membeli jam tangan baru, ponsel baru, atau barang-barang baru lainnya.

Aku sendiri bekerja di sebuah kantor pemerintah daerah yang di angkat sebagai pegawai negeri bukan karena lulus tes, melainkan karena masa pengabdian yang sudah terlalu lama. Meskipun begitu, Ibu selalu bilang, “ Jangan risau. Hal-hal yang begitu bukan masalah bagi Ibu?”.

Ibu yang kelihatannya bijak ini selalu membuat jadwal pertemuan dengan anak-anaknya. Pertemuan rutin keluarga itu selalu diadakan. Dan disinilah sang tokoh “aku” selalu merasakan rendah hati, minder bila dibandingkan dengan kesuksesan kakak-kakaknya. Di tiap pertemuan keluarga, “aku” merasakan perbedaan binar mata dan senyuman Ibu ketika menerima oleh-oleh dari anak-anaknya. Digambarkan dalam cerpen itu pada alinea berikutnya :

Mungkin cuma perasaanku saja, tapi aku melihat ekspresi Ibu tak sama ketika menerima bawaan-bawaanku. Senyumnya tak penuh, raut cerianya meremang, dan binar pada matanya memudar. Hal itu kecil memang, namun terasa benar membuat bisikan hantu kegagalan semakin memberat ditengkukku. Sepertinya hal tersebut disadari oleh Ibu yang sering menguatkan, “ Pemberian dari anak selalu membuat Ibu tua macam aku merasa terharu. Apapun pemberian itu”.

     Sampai di sini saya menduga cerita ini pastilah ceritera kesedihan seorang anak diantara saudara, karena mungkin pendidikannya kurang, nasibnya jelek, atau apalah…sehingga si “aku” menjadi anak yang terpinggirkan dari dua saudaranya. Bukan terpinggirkan oleh ke dua saudara kandungnya, tetapi juga oleh ibu kandungnya sendiri. Terpinggirkan karena ke dua saudaranya dalam jabatan kerjanya serta kemapanan materialnya sangat jauh unggul dari si “aku”. Namun perjalanan hidup seseorang tidaklah tergantung pada tingginya pendidikan, tetapi pasti ada “sesuatu” yang mengaturnya.

Waktu berjalan terus dan “aku” mendapat kepercayaan dari Kepala Kantor, di angkat menjadi Sekretaris Kantor. Digambarkan oleh RIZQI TURAMA yang dikaitkan dengan situasi dan kondisi keluarga Ibu:

     Entah karena bagusnya pekerjaan yang dilakukan atau atau karena memang tidak ada orang lain, aku di angkat menjadi sekretaris kantor. Sesuatu yang membanggakan. Aku langsung menceritakannya kepada Ibu pada saat pertemuan rutin. Senyum wanita itu mengembang mendengarnya. Hatiku bungah. Dibelainya kepalaku. ”Berarti sudah makin pandai kau cari uang?”,  Aku tertegun mendengar ucapan Ibu.

      Dalam pertemuan rutin keluarga, tiba-tiba, anak pertama  bertanya. Rupanya dia tahu siatuasi kota dan kantor tempat “aku” bekerja :

“Walikota masih yang lama?”, kakakku yang pertama tiba-tiba buka suara.

Aku jawab dengan anggukan kepala.

“Susah kalau masih dia. Semua orang juga tahu dia tertarik cuma pada olahraga. Dinas Tata Kota nggak akan di lirik. Kau baru bisa berharap kalau Walikota sudah ganti”.

Sepertinya yang dipertanyakan dan dinyatakan kakaknya itu benar:

Selang beberapa waktu, Kepala Kantor kami tiba-tiba di ganti dengan orang baru. Dalam waktu satu tahun ia sudah bisa membali mobil baru. Di tahun berikutnya ia mengajak keluarganya liburan keluar negeri. Sementara sebagai sekretarisnya aku tetap begini-begini saja.

Lalu di tahun ke tiga si Kepala Kantor pergi berangkat umroh sekeluarga dan “aku” ditunjuk sebagai PLT atau Pelaksana Tugas Harian. Sebelum berangkat si Kepala Kantor berujar pelan “ Kerjamu selama ini bagus, tapi jangan berpikir macam-macam selama aku pergi “.

Sdr. RIZQI TUMARA melanjutkan, bahwa seminggu setelah kepergian umroh, turun instruksi dadakan dari Walikota untuk melakukan pengadaan barang terkait perbaikan total terhadap taman kota yang ada di daerah Selatan. Instruksi itu bersifat segera dan urgen. Maka “aku” harus berperan sepenuhnya karena sebagai Pelaksana Tugas.

Sebagai Pelaksana Tugas, ujian langsung datang, Ketika pengumuman pengadaan barang resmi diumumkan dan hanya dalam hitungan jam, seorang datang lalu duduk di kursi di hadapan “aku”. Wajahnya ramah meskipun senyumnya terlihat dipaksakan dan berkata “Kuharap kau bisa bekerja sama dengan kami seperti Pak Kepala Kantor. Lalu menyorongkan segebok uang merah dan sebuah kunci mobil. Lalu dia mengajak melihat jendela dan dari jendela itu terlihat sebuah Fortuner berwarna putih bersih. Pelatnya juga putih. Kursi-kursi di dalam mobil itu masih terbungkus plastik bening. Dikatakan lagi “ Ini semua untukmu. Bukan untuk pak Kepala Kantor seperti biasa”, sambil mengeluarkan sebuah kartu nama, “ tetapi ingat nama ini untuk lelang nanti”. “ Kami memang memberi sedikit lebih banyak di banding yang biasa kami berikan pada Pak Kepala Kantor karena ini salam perkenalan untukmu. Ambillah!”.

Cerpen ini di tutup oleh sdr.RIZQI TURAMA dengan manisnya:

     Untuk pertama kali setelah sekian tahun, aku merasa tak ada beban ketika jadwal rutin berkumpul di rumah Ibu tiba. Tak ada mobil baru. Tak ada uang yang banyak. Tak ada perhiasan mewah. Senyum Ibu tetap tak penuh. Keceriaannya tetap meremang. Binar matanya tetap pudar melihat bawaanku yang tak lebih dari martabak manis. Tak ada apapun yang berubah  kecuali perasaan di dalam dadaku. Aku tidak lagi merasa sebagai orang gagal kali ini. Hantu yang memberati tengkukku telah menguap. Ia menghilang, seperti senyuman lelaki itu ketika meninggalkan ruanganku. 

Bagi saya, manis sekali kalimat penutup cerpen ini. Yang bisa disimpulkan, bahwa tokoh “aku’ telah menang dalam godaan setan suap. Meskipun disodori segebog uang merah dan sebuah mobil baru Fortuner. “ aku” telah berhasil mengatasi dengan sempurna godaan suap yang sangat menggiurkan. Namun yang disayangkan, adalah sikap sang Ibu yang tetap binarnya pudar dari matanya. Karakter orang memang berbeda-beda. Karakter si “aku” sangat kuat. Karakter sang Ibu, lemah. (BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.3.10.2022)

Jumat, 30 September 2022

 



SDT.SASTRA.23

BUDI SAMPURNO.SEPT.2


NUSANTARA ABAD 16.

(DENDAM DI ABAD 16)

Setelah saya membaca habis cerpen bagus berbentuk surat panjang ini, kok lebih cocok kiranya kalau judulnya DENDAM ABAD 16. Judul aslinya NUSANTARA ABAD 16, di tulis oleh EKO DARMOKO, berkelahiran Surabaya, seorang pegiat di Komunitas Sastra Cak Die Rezim Surabaya. Cerpen di muat di HARIAN JAWA POS, hari Sabtu 24 September 2022.

Cerpen berbentuk surat yang sangat panjang ini di buka dengan kalimat penuh nada dendam yang membara, yaitu :

SYAHBANDAR Kalianak yang Terkutuk, tentunya kamu kenal dan masih ingat dengan perempuan mulia bernama Maria Anna San Jose. Kamu pasti kaget ketika saya menyebut nama itu. Tahan  amuk ombak yang bergejolak dalam dirimu!. Sebaiknya tuntaskan surat ini!. Buang niatmu untuk merobek atau membakarnya!

Setelah membacanya, jangankan merobek atau membakarnya, bahkan saya rela bila kamu memakan surat ini.

Di Alinea berikutnya, nada dendam semakin terasa. Di tulisnya : Sampai di sini, pasti jidatmu sudah ditumbuhi bulir-bulir keringat yang jatuh membasahi  gulungan kertas yang kamu pegang. Teruskan membaca!. Jangan berhenti sebelum khatam.

Lalu siapa sih  Maria Anna San Jose itu ?!.  EKO DARMOKO sebagai penulis cerpen bercerita, bahwa gadis tsb adalah juru masak di suatu kapal pemburu rempah-rempah disekitar th 1566 . Yang sejak kapal angkat labuh di Samboanga, Maria Anna San Jose berhasil membuat drama guna mempertahankan kesuciannya dari incaran para pelaut fakir birahi. Para fakir birahi tidak berani menjamahnya, karena penyakit ruam misterius yang berada di selangkangan dan kelaminnya. Mereka takut ketularan. Namun ketika kapal menuju perairan Utara Pulau Jawa sisi Timur, drama Maria Anna San Jose terbongkar. Serta merta para pelaut fakir birahi mulai memburunya di kapal.  Beruntung Maria Anna San Jose cukup pandai dan licin dalam bersembunyi . Lama-lama tak tahan juga selalu bersembunyi serta takut dijadikan guling bergilir, maka ia memilih terjun ke laut setelah dilihatnya pulau Jawa sudah dekat. Dengan sekuat tenaga berenang menuju daratan. Setelah sampai di Teluk Kalianak seorang lelaki yang mengaku sebagai Syahbandar, mengangkatnya keatas perahunya membawanya ke daratan.  Maria Anna  San Jose dibawanya di Pos Pantau, dibaringkan di sebuah dipan. Lelaki itu menunggui sampai siuman. Dan membuatkan air jahe serta menyuguhi kentang rebus yang sudah dingin. Apakah lelaki itu benar-benar seorang Syahbandar ?. Menurut EKO DARMOKO, sebagai penulis cerpen, ternyata lelaki itu bukan Syahbandar. Dia adalah seorang lelaki yang pernah bergabung dengan sindikat bajak laut Bandor Berkumis serta sudah sering pergi ke tempat pelacuran . Dijelaskan lebih lanjut oleh EKO DARMOKO, bahwa lelaki itu di suatu senja menggerayangi tubuh Maria Anna San Jose, ketika itu kabut menyelimuti Teluk Kalianak. Maria Anna San Jose menangis, ketika mengetahui roknya copot serta menemukan bercak darah dan mani di sekitar kemaluannya. Sementara lelaki itu buru-buru mengenakan celananya, bersikap se-olah-olah tidak terjadi sesuatu yang memalukan. Belakangan Maria Anna San Jose tahu , bahwa ketika lelaki itu menyuguhkan teh hangat, sebelumnya telah di campur dengan ramuan biji apel, yang mengakibatkan tak sadar ketika disetubuhi. Dan sejak peristiwa itu, si-lelaki  menjelma menjadi seorang jahanam yang hampir setiap malam meniduri Maria Anna San Jose. Kabar gembira disampaikan oleh Tabib, setelah memeriksanya dan menyatakan Maria Anna San Jose hamil. Lelaki jahanam itu menjawab dengan enteng, bahwa akan menjaga dan membesarkan buah hati di Teluk Kalianak ini.

Tetapi ketika lelaki itu sedang menjala ikan di atas sampan, didatangi dua sekoci yang berisi  sejumlah pelaut Spanyol dan lelaki lokal sebagai juru bicara yang mencari Maria Anna San Jose. Dan akan menukarnya dengan sekantong keping emas serta sekotak opium dari Utara Swarnadwipa. Lelaki yang pernah menolong dan mengaku sebagai syahbandar itu, kelakuan aslinya serta-merta muncul. Diseretnya Maria Anna San Jose serta diserahkan kepada  orang-orang Spanyol tsb. Sementara itu, sampan lelaki jahanam dipenuhi dengan opium dan berkeping-keping emas. Maria Anna San Jose rela berlutut agar lelaki itu membatalkan niatnya.Tetapi lelaki setan itu ingkar janji untuk menjaga dan membesarkan anak buah hatinya seperti pernah dijanjikan dihadapan Tabib. Maria Anna San Jose di- bawa ke kapal Spanyol, menjalani hari-hari yang mengerikan selama berada di kapal Spanyol yang sedang merapat di daerah yang di sebut sebagai Nusantara. Maria Anna San Jose tidak sampai lagi di Samboanga, karena ketika sampai di Celebes Selatan, di buang bersama bayinya yang baru dilahirkan. Beruntung, ketika di buang bersama bayi perempuannya Maria Anna San Jose ditemukan dan di pungut oleh sekelompok nelayan. Lambat laun kenestapaannya menjadi lenyap dan berganti dengan kobaran semangat untuk melanjutkan hidup. Mengabdikan diri pada rutinitas kehidupan pesisir hingga akhir hayatnya.

Mengikuti cerpen  EKO DARMOKO sampai di situ, saya masih belum tahu siapa sih  sebenarnya yang menulis surat panjang bernada dendam yang sangat mendalam. Baru setelah membaca lanjutan suratnya, baru saya bisa menduga. Karena cerpen di tutup dengan kalimat:

Sedangkan bayi perempuan itu kini tumbuh menjadi gadis cantik pujaan Celebes. Perlu kamu catat beberapa minggu setelah kamu membaca surat ini, saya sudah tiba di Teluk Kalianak dan berdiri dihadapanmu. Tak sabar saya untuk membunuh lelaki paling jahanam di abad ini. Jaga dirimu baik-baik!. Saya akan datang untuk mengeluarkan jantungmu. Demikian sumpah saya. Celebes, 4 Juli 1586, Caroline Putri Maria Anna San Jose.

Cerpen bagus, lancar, enak di baca. Pesan moralnya : kemunafikan sudah ada sejak jaman dahulu. Rasa sayang dan cintanya serta rasa simpati ibanya terhadap penderitaan sang ibu, membuat Caroline harus tega membalaskan dendam sebagai penebus penderitaan sang ibu. Apakah Caroline Putri Maria Anna San Jose berhasil mengeluarkan jantung lelaki jahanam yang sebnarnya adalah ayahnya sendiri ?. Hanya EKO DARMOKO yang tahu.  Memang semuanya harus berhati-hati dalam mengarungi perjalanan hidup. Iluustrasi oleh BUDIONO (BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.30.9.2022)

 

Jumat, 23 September 2022

 

 

SDT.NGOBROL.17.

BUDI SAMPURNO. SEPT.1



NGOBROL “ INI BARU MENTERI “

Pak RT, pamit kepada Wagiman setelah asyik ngobrol  setengah jam lebih. Membicarakan pandemi yang sudah mulai memudar. Tetapi pak RT tetap mewanti-wanti warganya agar tetap waspada serta tidak lupa mempergunakan masker apabila sedang berada di luar rumah, atau sedang bepergian. Baik mengendarai kendaraan pribadi, lebih-lebih bila mempergunakan kendaraan umum.

Wagiman memutar badannya untuk kembali ke dalam rumah. Wagiarti sudah menunggu di teras rumah sambil membaca kliping koran.

WAGIMAN   : “ Nah…gitu…pinter…baca kliping. Jangan baca TG saja”.

WAGIARTI  : “ He he… Maaf…saya mengambil dan membaca kliping bapak”.

WAGIMAN  : “ Nggak apa-apa bu. Saya lebih suka kalau ibu juga ikut membaca kliping, dari pada membaca berita yang disajikan lewat TG. Karena yang disajikan lewat TG itu sering beritanya tidak netral. Condong ke arah kepentingan pribadi atau kelompoknya”.

WAGIARTI  : “ I ya pak. Beritanya selalu di-ulang-ulang serta di-beri komentar yang aneh-aneh. Nggak elok rasanya. Tadi itu yang saya baca tentang…..Itu lho ibu Menteri Sosial, bu Risma  memohon kepada bapak Presiden Jakowi untuk tidak memberikan remisi kepada para pelaku predaktor seksual. Predaktor itu  harus di beri sanksi maksimal sebagai upaya untuk memberi effek jera”.

WAGIMAN   : “ O…itu. Memang ketika ibu Risma berkunjung di Mapolres Sidoarjo. Kunjungannya dalam rangka menemui korban kekerasan seksual yang masih anak SD”.

WAGIARTI  : “ I ya. Dan korbanya itu anak tirinya. Aneh, ibunya sendiri kok ya memberi ijin kepada suaminya yang berkehendak berbuat bejad”.

WAGIMAN  : “ Pada hal sex itu indah ya bu !”.

WAGIARTI : “ I ya pak. Sex itu memang sangat indah, bila dilakukan atas dasar saling mencintai. Mereka ikhlas melakukannya. Apalagi kalau mereka itu sudah resmi sebagai suami-isteri.  Seperti…bapak dengan saya… he he he…

Kapan saja, di mana saja….Monggo…Ikhlas….”.

WAGIMAN : “ Hebat isteri saya ini! “.

WAGIARTI : “ Gombal…!. Masalah kekerasan seksual itu kan ya sudah ada Undang-Undangnya. Apa nama undang-undangnya  pak !?”.

WAGIMAN :  “ Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau di singkat menjadi UU TPKS. Itu nomor 12 Tahun 2022. Bu Risma kemarin juga mengingatkan. Undang-undang itu dapat digunakan untuk menjerat para pelaku kejahatan seksual. Karena pada Paal 11, disebutkan, bahwa pelaku kekerasan seksual tidak hanya memperoleh hukuman penjara dan denda, tetapi pelakunya juga bisa di ancam  mendapat pidana tambahan bila pelakunya keluarga dekat”.

WAGIARTI : “ Ya….undang-undang memang sudah ada pak. Tetapi apakah semua masyarakat tahu dan ngerti sebab dan akibatnya, bila melakukan kekerasan seksual?. Karena menurut berita-berita, mereka yang melakukan kekerasan seksual itu ada yang tingkat pendidikannya kurang. Atau mereka orang berpendidikan, tetapi tidak tersampaikan informasi undang-undang itu kepada mereka. Tidak semua orang mau dan mampu mencari, membaca undang-undang. Hayoo! “.

WAGIMAN : “Memang hebat ibu ini. Kadang emosional berat, tetapi bisa juga berpikir dan bersikap netral. Memang benar bu. Orang kalau sedang terbentur persoalan, baru mencari, membaca, mempelajari undang-undang yang ada kaitannya dengan persoalan yang sedang dihadapi”.

WAGIARTI  : “ Nah, itu artinya sosialisasinya kurang effektif, meskipun ketika undang-undang sudah disyahkan, dianggapnya semua warga negara sudah mengerti. Ya nggak bisa dong !”.

WAGIMAN  : “ Itu masalah klasik bu. Kita saja nggak ngerti kalau bu Risma tidak mengingatkan serta di muat di media, kalau masalah kekerasan sex itu ada undang-undangnya”.

WAGIARTI : “ Ya semoga saja permohonan bu Risma sebagai Menteri Sosial di dengar dan dikabulkan oleh bapak Presiden. Sebab banyak lho kasus kekerasan seksual. Itu yang di Jombang, si Bechi anaknya pengasuh pondok pesantren…..Itu Hery Wirawan guru ngaji yang memperkosa 12 anak santrinya. Haduh….. masih banyak lagi. Ngeri….pak !”.

WAGIMAN : “ Semoga pak Jakowi mengabulkan ya, bu. Tapi maaf bu….bapak kebelet pipis nih !. Sudah sejak ada pak RT, kebeletnya”.

WAGIARTI  : “ Oooooo di ajak diskusi masalah sex kok malah kebelet pipis. Ya, sudah monggo ke kamar kecil”.

WAGIMAN  : “ Kamar besarnya nanti malam ya bu !”.

Berkata begitu Wagiman  berlari kecil ke dalam rumah, sambil tertawa terkekeh-kekeh serta menengok ke arah isterinya.

Wagiarti tersenyum bahagia!. (BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.24.9.2022)

 

Minggu, 18 September 2022

 

SDT. SASTRA.22

BUDI SAMPURNO.Sept.1


PEMBUNUH YANG TERBUNUH

Sabtu kemarin saya membaca cerpen di Harian JAWA POS, tgl. 17 September 2022 di halaman 3. Cerpen ini enak di baca, tegang dan di akhir ceritera saya tertawa terpingkal-pingkal. Judul cerpen sangat sederhana, “ KERIKIL AJAIB “. Di tulis oleh sdr. ARAFAT NUR. Dia adalah seorang pengajar di STKIP PGRI, Ponorogo Jawa Timur. Di bulan Maret 2022, cerpennya juga  di muat di Harian JAWA POS, tertanggal 26 Maret 2022 yang olehnya di beri judul “ MIMPI BURUK TALITA “

Cerpen “KERIKIL AJAIB “ di buka dengan kalimat yang menyentak, yaitu : Lelaki itu tersentak sekaligus menjerit, lalu mengaduh kesakitan. Dia segera membalikkan badan. Menatap Marno dengan wajah tegang tak percaya disertai kemarahan menggelegak.

“ Kau?” ucap Bajra tidak percaya, “ berani melemparku?”.

Mendadak Marno terkesiap, tak percaya kalau batu kecil itu melayang begitu kuat dan bisa secara kebetulan mengenai kepala orang. Lagi pula sepatu kulit yang di pakai Marno untuk menemui pacarnya adalah sepatu kulit palsu murahan, tetapi memiliki sol yang keras.

Siapakah Marno ?. Oleh sdr. ARAFAT NUR digambarkan sebagai seorang pemuda yang sedang geram karena di tolak untuk menemui pacarnya. Saking geramnya Marno menyepak kerikil yang tergeletak di badan jalan aspal. Dan ternyata melayang kencang menghantam tengkuk belakang Bajra.

Lalu siapakah Bajra?. Digambarkan , Bajra bukanlah orang biasa. Lelaki bertubuh besar dan gagah itu adalah seorang dukun berilmu hitam. Tidak ada sedikit pun ilmu putih padanya. Penduduk sangat menakutinya. Tidak ada orang yang berani melawannya. Orang-orang yang berani menentangnya akan mati, atau setidaknya muntah darah. Polisi pun tidak punya alasan untuk meringkusnya, karena tidak ada bukti kejahatan yang dilakukan oleh Bajra. Dalam dunia perdukunan, apapun yang dimiliki Bajra dan perbuatannya, tidak bisa dijadikan barang bukti kejahatan. Oleh karena itulah Barja bisa bebas berkeliaran dan bebas melakukan apa saja, tanpa takut berhadapan dengan hukum.

Di desa Marno tinggal, desa Ketro, selalu saja ada penduduk yang mati dengan tidak wajar

Mukhsin, seorang pendatang  dan jadi tetangga Bajra, tiba-tiba jatuh sakit. Dokter tidak bisa mengatasinya. Para dokter spesialis tidak pahan dengan penyakit yang di derita Mukhsin. Digambarkan Mukhsin tidak bisa bangkit karena kelelahan. Akhirnya sesuai anjuran para dokter, Mukhsin di minta istirahat dan akhirnya mengambil cuti panjang. Anehnya ketika jatuh sakit, diusianya yang hampir empat puluhan, Mukhsin tumbuh gigi baru di tempat gigi gerahamnya yang tanggal. Sungguh tidak masuk akal. Dan tak lama kemudian Muhksin meninggal. dokter tetap berkesimpulan, meninggalnya karena kelelahan, pada hal dia tidak pernah kerja, semua pekerjaan rumah selalu diselesaikan isterinya. Sebagai guru, dia juga tidak banyak dibebani tugas.

Kasus-kasus yang aneh selalu ada di setiap tahun, terutama mereka yang bersinggungan dengan si dukun Bajra. Ada yang kakinya luka tidak bisa sembuh. Ada yang tidak lama kemudian mati setelah bertengkar mulut dengan Bajra. Kematiannya pasti tidak wajar.

Tapi mereka yang tidak pernah ada masalah dengan Bajra, kematiannya selalu wajar, tidak ada yang aneh.

Tokoh sentral dalam cerpen sebenarnya adalah Marno yang baru saja di tolak untuk menemui pacarnya. Ketika Marno di tolak menemui pacarnya, dengan geramnya Marno menendang batu kerikil yang ada di badan jalan beraspal dan tidak di sangka batu kerikil itu melayang dengan cepat dan kerasnya. Marno memakai sepatu murah, yang terbuat dari kulit palsu tetapi ber sol sangat keras.

Seperti yang di tulis dalam pembuka, batu kerikil yang di tendang ternyata mengenai belakang kepala si Dukun Barja. Melihat Barja murka serta berkata dengan kasarnya ”Beraninya kau melemparku”. Tuding Barja geram penuh kemarahan. Mendadak wajah Marno pucat. Mulutnya tergagap, “Bukan aku,Pak!”.

“ Lalu siapa?”. Tanya Bajra sambil menebarkan pandangannya. Tak ada seorang pun di jalan itu. Bajra mengerang dengan wajah keras dan mata membelalak, “Beraninya kau, bocah ingusan. Beraninya kau melemparku dengan batu!”

“Ampun, Pak. Ampuni aku. Aku tidak melemparmu”, Marno memohon.

“Slompret!”, sembur Barja geram dengan wajah semakin tegang dan amarah menggelegak. Tubuhnya gemetaran karena marah dan juga kesakitan. Sambil memegang belakang kepalanya, dia menghapiri Marno dengan salah satu tangan mengepal kuat. Dia mengerang,

dalam jarak sekitar sepuluh langkah, tiba-tiba Barja mencabut keris dari balik pinggangnya.

Menyadari hal itu, bila masih tetap berdiri di tempat, Marno akan mati. Ketimbang mati, lebih baik aku lari, batin Marno langsung balik badan dan kabur sekencangnya. Lari dan lari terus. Sejam kemudian Marno sampai di kota Kecamatan. Selama hidupnya belum pernah dia berlari sejauh dan secepat itu dengan durasi yang hampir tanpa berhenti. Tenaganya terkuras habis dengan nafas hampir putus dan mulut sangat kering. Dan seumur hidupnya dia belum pernah ketakutan sedemikian hebat, yang sekarang membuat tubuhnya lemas terduduk. Jangankan untuk berjalan, bangkit saja tiba-tiba dia tidak mampu lagi. Tubuh Marno tergeletak di bawah sebatang pohon mangga di halaman masjid kecil. Dia mencoba mengangkat tangannya untuk mengusap keringat. Aneh, tangannya tidak bisa digerakkan. Jangan-jangan dukun itu sudah menyantetku, pikirnya ngeri.  Seandainya dukun itu tiba sekarang atau sebentar lagi, tentu dia bisa langsung membunuh Marno tanpa sedikit pun perlawanan. Dalam kengerian yang membuat keringatnya terus bercucuran, Marno hanya bisa pasrah. Kalau memang aku mati hari ini, ya matilah. Mungkin aku lebih baik mati hari ini. Dia pingsan, tak sadarkan diri. Marno terjaga setelah hari sudah gelap dan masjid dalam keadaan gelap. Sedangkan lampu-lampu dari bangunan lain tidak sampai sinarnya ke halaman masjid. Lampu jalan juga sudah lama rusak.

Apakah sekarang aku sudah berada di alam kubur?, batin Marno. Tangannya terangkat perlahan. Tubuhnya dirasakan sakit dan pegal-pegal. Berusaha bangkit untuk duduk dengan susah payah. “Ini nyata dan aku masih hidup “, batinnya.

Setelah sadar diri, meskipun masih beranggapan dirinya akan mati malam ini. Maka Marno ingin mati di tempat yang tenang, tidak di jalan. Marno teringat rumah Suroso, teman sekolah yang sering dikunjungi untuk sama-sama mengerjakan pekerjaaan rumah. Tidak jauh dari masjid di tempat Marno menggeletak. Marno berusaha dengan sekuat tenaga berjalan menuju rumah Suroso.

Sesampai di rumah Suroso, di copotnya sepatu dan ngelonyor menerobos kamar Suroso.  Langsung merebahkan dirinya di ranjang, menarik selimut hingga menutupi wajahnya.

“ Aku demam”, ucap Marno lemah. “Mungkin aku akan mati malam ini”.

Suroso agak geli melihat kelakuan Marno yang konyol, seperti tingkah di buat-buat.

“ Kau kenapa Marno? Apa baru diputusi Mira?”.

Karena sulit menjawab, Marno mengangguk malas. Selang beberapa lama Suroso bilang

“ Aku punya kabar baik”. Marno tetap diam seperti tertidur. Tetapi Suroso menyakini, Marno tidak tidur. “Ini tentang Bajra…”.

Tiba-tiba saja kedua tangan Marno mengempas selimut yang menutupi wajahnya. Dia menunggu Suroso melanjutkan. Lantaran Suroso diam saja, maka Marno bertanya,”Kenapa?”

Suroso menjawab,” Kau belum tahu”. Marno menggeleng.

“Aku baru saja dari rumahnya. Sial betul dukun santet itu. Pasti ada seseorang yang mengetapel sangat kuat. Kerikil itu menghantam tengkorak belakangnya sampai pecah. Batu bersarang di otaknya. Tentu dia tahu siapa yang telah membunuhnya”.

Dada Marno berdegup kencang. Jantungnya seperti tiba-tiba lepas, “Kenapa bisa?”.

“ Sebab, ketika ditemukan mayatnya tergeletak di pinggir jalan, tangan Bajra masih menggenggam keris”, jawab Suroso.

“ Dia mati ?”, tanya Marno tidak percaya.

“ Ya, mati. Batu kerikil itu memecah tengkorak belakangnya dan tersangkut di dalam. Mungkin otaknya hancur”.

“Kok bisa ?”, tanya Marno sulit percaya.

“ Mana aku tahu,” jawab Suroso dengan nada tinggi. “Tadi sore aku baru dari rumahnya. Ramai sekali orang datang. Kulihat mayat Bajra tergeletak dengan begitu menyedihkan”.

Cerpen ini di tutup oleh Sdr.ARAFAT NUR  ( saya tertawa membaca penutup cerpen ini).

Tiba-tiba, tanpa tertahan, Marno tergelak sendiri. Penyakit sesaknya mendadak hilang. Dia tampak begitu sehat dan kembali bersemangat yang membuat Suroso sangat terheran-heran.

Bagi saya cerpen ini bagus. Lancar cara penguraiannya. Pesan moralnya ada. Orang yang sengaja berbuat jahat, pasti suatu ketika akan tergelincir. Menodai dirinya sendiri.

Suatu pertanyaan yang sedikit menggelitik di hati saya. Dukun Barja dan Marno itu tinggal di desa Ketro. Suroso tinggal di kota Kecamatan. Dari desa Ketro, Marno menghindar di bunuh Barja, harus lari sekencang-kencangnya selama satu jam tanpa berhenti, sampai pingsan. Berarti dari kota Kecamatan ke desa Ketro itu jauh ya. Suroso yang tinggal di kota Kecamatan, tahu Barja meninggal dengan  melihat sendiri ke rumah Basrja. Datangnya Suroso ke rumah Barja itu sengaja atau hanya secara kebetulan lewat saja ya?!. Jauh lho dari kota Kecamatan ke desa Ketro. Apa Suroso sengaja melayat?? Hanya Sdr.ARAFAT NUR yang tahu jawabnya.. (Budi Sampurno.Mak’skom.IPJT.18.9.2022)