Minggu, 25 Juni 2023

 

SDT.SASTRA.31

BUDI SAMPURNO, JUNI.1



MIRA INGIN JADI BATU

Judul kupasan ini sama dengan judul cerpen yang di muat di HARIAN KOMPAS, hari Minggu tgl, 11 Juni 2023. Hasil karya tulis MASDHAR ZAINAL, kelahiran 5 Juni 1984 di Madiun yang sekarang tinggal di Malang. Cerpen ini berceritera tentang seorang gadis bernama Mira yang sangat ketakutan ketika mau menerima rapor kenaikkan kelas. MASDHAR membuka cerpennya dengan, “ Malam sehari sebelum pembagian rapor kenaikan kelas, Mira menatap cermin dalam kamarnya, dia mendengar suara-suara dari dalam dirinya”.

Mira sendiri mengakui kalau dirinya bodoh, tolol. “ Mira memelototi sosok dalam cermin. Tidak tersenyum. Rasanya dia tidak mengenal baik sosok dalam cermin itu. Dia hanya tahu, gadis dalam cermin itu adalah gadis paling tolol di kelas.Tak pernah dapat nilai bagus. Tidak banyak disukai teman-teman. Dan selalu menjadi bulan-bulanan omelan para guru. Bocah goblok! Bocah tolol! Bocah malas!”.

Ketika Mira sedang asyik berdialog dengan dirinya di hadapan cermin di kamar terdengar teriakan ibunya.

“ Miraa!.Matikan lampunya dan cepat tidur!. Besok pagi kita ambil rapormu. Kita lihat apa kamu bakal naik kelas atau mendekam di kelas empat!.

Mira diceriterakan hidup bersama mamanya. Mamanya bisa di bilang galak, keras. Selalu dan sering memarahi Mira. Digambarkan oleh MASDHAR ZAINAL, selepas pembagian rapor semester awal. “ Sampai di rumah, Mama langsung mendudukannya di kursi tamu. Sangat kasar. Rapor di banting di atas meja dalam keadaan terbuka.”Lihat nilaimu. Lihat!. Merah semua! Kamu selalu bikin malu Mama. Tak pernah bisa bikin Mama bangga!. Mama mendorong dorong jidat Mira dengan jari telunjuknya. Seperti hendak mencocok matanya”.

Setelah mematikan lampu, Mira tidur dan paginya, kembali suara Mama juga menggema dalam kamar, menyuruh Mira segera bangun, mandi dan cepat berangkat ke sekolah.

Sesampai di sekolah Mira duduk pada bangku di luar kelas. Dia melihat mamanya duduk di deretan nomor tiga dari belakang. Mira melihat teman-teman sekelas sedang bermain di halaman. Mira mengabaikan polah teman-temannya. Tetapi ingat perlakuan mamanya selama ini, Mira hampir saja membenci mamanya. “Dia menyesal. Hampir saja dia membenci mama. Untungnya dia teringat pelajaran agama tentang berbakti kepada orang tua. Dia ingat pesan Pak Huda, betapa beruntungnya anak-anak yang masih memiliki orang tua. Dia juga teringat cerita Malin Kundang yang pernah dia baca di perpustakaan sekolah, kisah si anak durhaka. Mira membayangkan, jika dia membantah kata-kata mama, bisa-bisa dia di kutuk menjadi batu, seperti Malin Kundang. Duh, bagaimana rasanya dikutuk jadi batu?”

Para orang tua telah berbondong-bondong keluar dari kelas. Mamanya tidak tampak ikut keluar kelas. Dilihatnya, mama masih berbicara berhadap-hadapan dengan Bu Guru Karti di dalam kelas. Mira gelisah dan cemas serta digeluti rasa takut yang luar biasa. Mira memejamkan mata,mengepalkan telapak tangan erat-erat, mencengkeramkan jari-jari kaki dalam sepatu, mengadukan giginya. Dalam kondisi demikian, pikiran dan jiwa Mira melayang, teringat cerita Malin Kundang. MASHDAR ZAINAL menggambarkan ketakutan Mira dengan kalimat, “ Mungkin aku mau jadi batu.Tapi, kalau dipikir-pikir jadi batu sepertinya tidak terlalu buruk. Aku tak perlu lagi menangis bila dipukul mama. Tak perlu gemetar bila  diteriaki mama. Dan yang paling penting, tak perlu lagi berhadapan dengan rapor beserta angka-angka merah yang ada di dalamnya. Aku mau jadi batu saja”.

Begitu mama keluar dari ruang kelas serta memekikkan namanya, Mira tetap tidak bergeming dari duduknya. Mama menyeret Mira mengajak pulang.

Cerita yang tidak enak ini di tutup oleh MASHDAR ZAINAL, “ Mama terus memekik-mekik, sambil  berusaha menyerat Mira. Mira tak bersuara. Matanya terus  terpejam. Guru-guru berdatangan. Teman-teman Mira berkerumun. Mira tak perlu tahu kalau dia dan mamanya sudah jadi tontonan orang satu sekolahan”.

Aku mau jadi batu!. Aku mau jadi batu!.

Cerpen ini berakhir dengan begitu, tanpa informasi bagaimana sesampainya di rumah. Pelampiasan model apa yang ditumpahkan mamanya kepada Mira.

Dari awal saya baca, MASHDAR ZAINAL memang tidak memberikan informasi secuilpun, siapakah si Mama itu. Apakah seorang janda, apakah seorang ibu tiri Mira. Ini berkaitan dengan tingkah laku, sikap Mama kepada Mira, yang begitu kejam. Biasanya kalau anak kandung, mungkin Mama tidak akan sesadis itu, kecuali mungkin ada kekecewaan yang mendalam dengan mantan suami. Sebaiknya penulis perlu sedikit memberikan informasi hubungan antara Mama dan Mira, sehingga pembaca bisa menerimanya secara logika. Mengapa Mira sampai berpikiran kuat, serta berkehendak lebih baik menjadi batu saja, dari pada sehari-hari berhadapan dengan kejamnya sang Mama. (BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.25.6.2023)

 

 

 

 

Minggu, 11 Juni 2023

 

SDT KOMEN.33

BUDI SAMPURNO. Juni 1.

                                      PENEGAK HUKUM YANG PERLU DI HUKUM

Harian cetak, media elektronik sejak  Sabtu  10 Juni 2023 di hiasai berita tentang KAJARI KABUPATEN MADIUN DICOPOT karena positif pemakai barang haram, narkotika. Membaca berita ini, dada berdegub. Corengan tinta merah pantas dibaretkan di instansi penegak hukum itu. Kajari Kabupaten Madiun, Andi Irfan Safruddin, terbukti sebagai pengguna narkotika, hasil tes urine dan rambut di Polda Jatim. Langsung di copot dari jabatannya.

Kita acungi jempol kepada Mia Amiati, Kajati Jatim. Atas inisiatifnya, ketika berlangsung acara Kunjungan Kerja Komisi III DPR-RI tgl 12 Mei 2023, kehadiran ke 39 Kajari se-Jatim dimanfaatkan untuk melakukan tes urine. Selesai acara dengan Komisi III DPR-RI, Kajati Jatim, Mia Amiati memerintahkan supaya semua Kajari Kabupaten dan Kota tidak boleh meninggalkan tempat atau pulang. Dan pada saat itulah tes urine dilaksanakan. Sebelumnya memang Kajati Jatim sudah melakukan koordinasi dengan Polda Jatim tentang pemeriksaan urine tsb. Pelaksanaan tes secara ketat sesuai dengan prosedur pemeriksaan yang baku. Pengambilan urine di kamar kecil juga diikuti anggota polisi Polda Jatim. Pengambilan sample rambut juga dilaksanakan secara ketat. Hasilnya ditemukan, Andi Irfan Safruddin sebagai pengguna narkotika. Temuan itu segera dilaporkan ke Pimpinan Kejaksaan Agung. Hasilnya, Andi Irfan Safruddin di copot dari jabatannya.

Mungkinkah hanya Kejaksaan Tinggi Kabupaten Madiun saja?. Apakah masih ada pecandu-pecandu narkotika di kalangan Kejaksaan?. Inilah yang perlu ditindaklanjuti atau meniru dari Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Mia Amiati yang dengan berani melakukan reformasi dikandangnya sendiri, demi tegaknya disiplin dan demi kelancaran pelaksanaan tugas tanpa cacat.

Memang pihak Kejaksaan Agung telah melakukan pengamanan ke dalam lingkup Kejaksaan di seluruh Indonesia. Melalui Tim Pengamanan Sumber Daya Organisasi (SDO), selama th 2022 telah melakukan penindakan terhadap 25 Jaksa dan pegawai yang menyalahgunakan wewenangnya.

Rumpun penegak hukum beberapa waktu ini telah digoncangkan dengan peristiwa-peristiwa yang menciderai dan mempermalukan korps masing-masing. Masih ingat jaksa cantik Pinanti. Masih ingat juga Jend. Ferdy Sambo, Jend. Teddy Minahasa seorang jendral  yang justru bertindak sebagai pengedar barang terlarang. Ada lagi beberapa hakim yang di ciduk KPK karena perbutannya tidak menegakkan hukum tapi justru mempermainkan hukum untuk kepentingan pribadi dengan memperjualbelikan keadilan. Padahal hakim itu sudah ditempatkan sebagai wakil Tuhan. Diharapkan hakim selalu memberi keputusan yang benar-benar adil sesuai dengan bukti data serta penggalian peristiwa dipersidangan.

Akankah perbuatan mempermalukan masing-masing korps ini berlanjut terus?. Inilah yang harus disadari para pimpinan dari rumpun penegak hukum. Para pimpinan harus punya kemauan dan kemampuan untuk mereformasi diri serta menegakkan reformasi dalam kandangnya masing-masing. Kemauan mungkin punya, tapi jangan sampai kemampuannya tidak kuat, karena pimpinan itu sendiri sudah terjebak dalam lingkaran yang mempermalukan korpsnya, misal sudah terbiasa mendapat upeti. Sehingga tidak berani untuk melakukan tindakan tegas. Sebaiknya segera fungsikan pengawasan  dalam  lingkup jajarannya. Memang hal ini tugas yang berat, karena fungsi pengawasan intern tampaknya sudah banyak yang diberitakan tumpul. Pada semestinya, para penegak hukum itu harus menjalankan statusnya, baik ketika sedang bertugas ataupun tidak dalam tugas. Karena status sebagai penegak hukum itu melekat dalam dirinya. Oleh karena itu seorang penegak hukum harus menjalankan tugasnya dengan benar-benar sesuai tugas serta fungsinya. Jangan sampai terjadi “penegak hukum yang perlu di hukum”. (Budi Sampurno.Mak’skom.IPJT.11.6.2023)

 

  

Kamis, 01 Juni 2023

 

SDT.NGOBROL.30

BUDI SAMPURNO.JUNI.1



NGOBROL “OKNUM”

Seperti biasa, di sore yang cerah, meja di teras sudah dipenuhi tumpukan kliping. Wagiman sedang asyik menggunting koran terbitan kemarin. Wagiarti muncul dari dalam rumah sambil membawa nampan. Diatasnya tampak secangkir kopi dan piring berisi pisang goreng. Tanpa basa-basi, Wagiarti langsung duduk di samping Wagiman, mukanya mencuca-mencucu.

WAGIMAN   : “ Kopi dan pisang gorengnya sudah boleh dinikmati, bu?”.

WAGIARTI   : “ Sudah di taruh di situ ya artinya sudah boleh, pak…pak!”.

WAGIMAN   : “ Ya, bapak ijin dulu, wong bapak lirik, muka ibu nggak sumringah, malah mencuca-mencucu”.

WAGIARTI   : “ Saya ini sedang sebel pak. Maaf ya pak, saya kan sering ikut baca-baca kliping bapak. Tapi isinya kok banyak negatifnya”.

WAGIMAN   : “ Maksud ibu gimana ?”.

WAGIARTI : “ Negara kita itu kan dasarnya Pancasila. Kok banyak yang nggak Pancasilais. Kepolisian, Kehakiman, Kejaksaan, Kementerian Keuangan, Kominfo dan masih banyak lagi, kan pak!. Mereka pejabat negara kok kelakuannya kayak begitu!”.

WAGIMAN  : “ Lah…lah…Kok ibu menuduhnya begitu”.

WAGIARTI  : “ Yaitu….Ini ibu baca di kliping bapak lho!. Seperti..Jendral Pol.Ferdy Sambo, Jendral Pol.Teddy Minahasa, Hakim Sudrajad Dimyati, Hakim Itong, Jaksa cantik Pinangki, Kementerian Keuangan Rafael Alun Triambodo…yang sekarang baru top-topnya korupsi 8,3 T Rp….!!!”.

WAGIMAN   : “ Di tambah lagi bu…Rektor Universitas Lampung Prof. Karomani, Rektor Universitas Udayana Prof. I Nyoman Gde Antara, Bupati…Walikota di tangkap KPK…”.

WAGIARTI   : “ Nah tuh…bapak hafal juga ya”.

WAGIMAN   : “ Hafal…yang bikin kliping bapak, pasti di baca dulu Tapi….yang ibu sebut dan bapak juga sebut tadi itu namanya oknum dari organisasi di mana mereka itu bekerja”.

WAGIARTI  : “ Ah…rata-rata semua Kementerian dan instasi manapun juga orang-orangnya tidak Pancasilais”.

WAGIMAN  : “ Ya…Tapi itu sekali lagi….oknum, bu. Tidak semua pegawai atau karyawannya seperti yang ibu tuduhkan”.

WAGIARTI  : “ Ah…Bapak malah membela mereka. Belum kita ingat-ingat itu, anggota DPR-DPRD yang dijerujikan KPK. Bapak nggak usah membela…pakai kata oknum lah. Nyatanya mereka penjahat, mereka tidak Pancasilais. Titik!”.

WAGIMAN  : “ Nggak usah emosi bu. Semua itu sudah ada yang mengurusi…””.

WAGIARTI  : “ Ngurusi gimana…wong Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, penegak hukumnya justru penceng semua!!!”.

WAGIMAN   : “ Kalau semuanya penceng. Ya negara ini sudah ambrol, bu. Nyatanya negara kita masih tegak berdiri. KPK juga masih bekerja, Kelurahan, Kabupaten, Kepolisian, Kejaksaan dll…juga masih bekerja. Dan mereka juga masih tegak, tegas menangkap, mengadili mereka yang ibu katakan tidak Pancasilais. Masih banyak yang jujur, bu. Masih banyak yang Pancasilais, bu…Kalau yang seperti ibu katakan tadi…negara sudah ambrol. Nyatanya NKRI tetap berdiri. Sekali lagi…itu oknum, bu. Yang memang harus dikejar, ditangkap, dihukum, dijerujikan…. Ibu nggak usah emosilah”.

WAGIARTI  : “ He he he…I ya-ya pak. Dik Parto itu juga masih tugas sebagai hakim di Semarang, dik Puji anaknya pak Karmin…ya masih tugas di Kejaksaan Pontianak. Lainnya family kita juga masih banyak yang bertugas di Jakarta, malah kemarin juga ikut menyelidiki kasusnya Jhonny G Plate “.

WAGIMAN    : “ Nah…tuh…!”

WAGIARTI   : “ Mungkin perlu diadakan Penataran P4 lagi ya pak. Dulu bapak kan pernah ikut dan jadi widyaswaranya”.

WAGIMAN   : “ Ah…bapak sudah pensiun, bu. Sudah ada yang ngurusi. Kita percayakan negara ini kepada para generasi muda. Yang penting mereka jangan sampai terkontaminasi oknum-oknum jahat tadi”.

WAGIARTI   : “ Pak…mau sate…Tuh pak Rojiun penjual sate lewat!?”.

WAGIMAN   : “ Mauuuu…Bapak panggil ya!. Ibu siapkan piringnya”.

Wagiman memanggil penjual sate, Wagiarti langsung berdiri berjalan berjentit-jentik masuk dapur mengambil piring dan dompet.(Budi Sampurno.Mak’skom. IPJT.1.6.2023)

 

 

 

 

Rabu, 24 Mei 2023

            SDT.NGOBROL.29

BUDI SAMPURNO.MEI.2


NGOBROL “PINTER TAPI BODO”

Wagiman baru saja meletakkan gunting di meja dan koran yang di gunting jatuh di lantai, Wagiarti muncul, duduk di samping Wagiman, sambil tersenyum-senyum. Wagiman memandang isterinya, keherannan.

WAGIMAN  : “ Ada apa bu, datang-datang kok senyum-senyum?”

WAGIARTI : “ Itu lho, saya itu berpikir secara logika, orang di angkat jadi pejabat, logikanya kan pasti orang pinter “.

WAGIMAN  : “ Ya, jelas pasti orang pinter, bu. Artinya orang itu di anggap mumpuni untuk mengemban tugas-tugas jabatan yang dipercayakan padanya. Nggak mungkinlah pimpinan mengangkat orang bodo, atau orang yang pendidikannya kurang, untuk di percaya menduduki jabatan-jabatan penting”.

WAGIARTI  : “ Tapi ada lho pak! Dapat jabatan karena beli”.

WAGIMAN   : “ Kalau yang itu sih nggak usah dibicarakan, bu. Itu urusan KPK. Kan banyak Bupati, Walikota karena jual beli jabatan di tangkap KPK. Dan terpaksa meringkuk di kamar jeruji besi”.

WAGIARTI  : “ Ada lagi lho pak. Dasarnya pinter dan di percaya. Tapi pada akhirnya kelihatan bodonya. Itu dalam kabinet…Menteri yang di tangkap pihak Kejaksaan”.

WAGIMAN   : “ Ooooo….yang baru viral. Menteri yang di tangkap Kejaksaan karena di duga melakukan penyelewengan uang negara sebesar 8,3 T”.

WAGIARTI  : “ Ya….Menteri Kominfo. Sekarang media manapun saling memberitakan, saling membicarakan. Saling menganalisa. Masyarakat biasapun ramai-ramai membicarakan”,

WAGIMAN  : “ Lalu yang ibu anggap pinternya di mana dan bodonya di mana. He he he, rupanya ibu sebagai masyarakat biasa juga ikut-ikutan menganalisa peristiwa mega korupsi ini. Gimana, bu…Analisanya?!”.

WAGIARTI   : “ Dia pinter, makanya di angkat jadi Mentari. Dia bodo, karena korupsinya tidak di dukung dengan analisa teknologi. Makanya ketahuan dan di bongkar oleh Kejaksaan”.

WAGIMAN   : “ Wiiih…Analisa ibu pakai analisa teknologi, nih… Tajem pasti!”.

WAGIARTI  : “ Itu kan proyek BTS. Pikiran sederhana, itu proyek membangun banyak menara untuk keperluan jaringan internet. Penempatan pembangunan menara itu, yang dekat-dekat bisa di lihat dengan kasat mata. Artinya, bisa didatangi, dilihat. Nah yang jauh-jauh, kan bisa di lihat dengan peralatan satelit. Wong para ahli bilang, untuk mencari tambang minyak, tambang emas, di laut mana yang banyak ikannya, itu bisa di lihat dengan bantuan peralatan dan kecanggihan satelit”.

WAGIMAN   : “ Wih…, ibu memang cerdas. I ya, di atas kertas perencanaan, pada titik koordinat berapa rencana menara itu di bangun, pasti bisa dilakukan pengechekan lewat satelit. Yang di luar Jawa, daerah-daerah terpencil, daerah  perbatasan nggak di bangun. Tapi uang sudah dicairkan”.

WAGIARTI   : “ Lha ini, pak. Orang Kominfo, tapi kok nalarnya nggak sampai di situ ya”.

WAGIMAN    : “ He he he…itu yang ibu bilang…Menteri itu orang pinter, tapi bodo…Sangat setuju bapak!!”.

WAGIARTI    : Lha…terus uang hasil korupsi itu mengalir kemana ya. Banyak lho 8,3 T”.

WAGIMAN    : “ Kalau itu…ibu ataupun bapak…nggak usah mikirlah. Itu saudara-saudara kita di Kejaksaan, orang cerdas-cerdas semua. Pasti dalam waktu dekat sudah dapat di bongkar dan pasti segera diinformasikan kepada masyarakat”.

WAGIARTI    : “ Masyarakat….haus menunggu beritanya, pak “.

WAGIMAN    : “ I ya bu. Sama dengan bapak. Bapak juga sudah haus nunggu wedang kopinya”.

WAGIARTI   : “ Ya….sabar sedikit dong pak. Kita kan orang awam, masyarakat kecil yang peduli pada keselamatan negara”.

Wagiarti berdiri meninggalkan Wagiman, berjalan berjentit-jentit menuju ke dapur. Wagiman tersenyum melihat tingkah isterinya. Tangannya kembali meraih tumpukan kliping.(BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.24.5.2023)

 

 

Kamis, 18 Mei 2023

 

SDT.SASTRA.30

BUDI SAMPURNO.MEI.1 



MENUNGGU GODOT

JIMMY ANGGARA, tinggal di Jakarta, beberapa cerpennya sudah pernah di muat di berbagai media, termasuk Harian KOMPAS. Hari Minggu, tgl 14 Mei 2023 kembali cerpennya di muat dengan judul "SETELAH 69 TAHUN MENUNGGU GODOT”. Dan di beri ilustrasi oleh seorang pelukis tinggal di Bandung, DIYANTO.

Cerpen ini berkisah tentang seseorang tamatan sekolah Teater, Agus Tromol yang sangat mendambakan memperoleh peran antagonis dalam film.

JIMMY membuka cerpennya dengan kalimat sbb, Agus Tromol lulusan sekolah teater dan bercita-cita ingin menjadi aktor terkenal Indonesia. Namun dalam 10 tahun kariernya sebagai aktor, Agus Tromol selalu berperan sebagai pemain figuran. Dia pernah dalam film berlatar belakang zaman kerajaan Majapahit, di mana sebagai anggota pasukan Bhre Wirabhumi, dalam Perang Paregreg, dia di tombak dua kali dan mati di tempat. Adegan itu memakan waktu tidak sampai 8 detik. Di film lain, yang berlatar belakang zaman perang kemerdekaan, dia berperan sebagai tentara rakyat yang di tangkap Belanda, dimasukkan ke dalam penjara, lalu tidak muncul lagi selama sisa film.

Sebenarnya, Agus Tromol menyadari, bahwa tampangnya tidak tampan. Meskipun tidak tampan, dia punya keyakinan tetap bisa mendapat peran yang keren, antagonis, misalnya. Temannya yang bernama  Dedy Roban, berusaha mengingatkan, bahwa aktor-aktor di jaman sekarang ini yang laku adalah mereka yang tampangnya ganteng atau cantik. Dan juga tidak perlu dari tamatan sekolah teater. Dedy Roban adalah teman waktu di Sekolah Teater, tetapi dia banting stir menjadi penjual soto ayam. Sudah dikaruniai empat anak.

Agus Tromol sebenarnya juga sudah seperti putus asa, karena peran yang diharap-harap tidak kunjung datang. Pernah mengutarakan kepada teman-temannya, kalau akan mengundurkan diri dari dunia film. Tetapi kembali lagi pada keyakinannya, bahwa dia pasti mampu untuk berperan antagonis. Niat mundur dari dunia film selalu gagal. Dan kembali lagi pada penantian untuk mendapat panggilan berperan dalam film sebagai tokoh antagonis.

Pada suatu hari, sehabis makan siang, Agus Tromol dikejutkan suara panggilan dari teman perempuan seangkatan kuliah. Bekerja di sebuah rumah produksi, yang menawarkan peran antagonis serta di minta untuk datang ke kantor. Keesokan harinya Agus Tromol datang ke kantor dan ketemu dengan sutradara yang menangani produksi film. Reaksi sang sutradara ketika bertemu dengan Agus Tromol, JIMMY ANGGARA menuturkan :

Saat melihat tampilan Agus Tromol yang lusuh dan berambut panjang hingga sepinggang, sutradara meminta Agus Tromol memotong pendek rambutnya. “ Tak pernah ada bos dimanapun yang rambutnya seperti perempuan”, kata sutradara.

Agus Tromol menjadi resah. Rambut panjangnya adalah salah satu dari kebanggaan yang ada pada dirinya. Dia sudah hidup cukup lama bersama rambut panjangnya yang sepinggang itu, dalam keadaan suka dan duka, sehingga berpisah darinya baginya seperti berpisah dari kekasih tersayang. Disaat yang sama, tawaran  untuk bermain di FTV ini merupakan kesempatan yang tak ingin dia lewatkan. Akhirnya Agus Tromol berkata kepada sutradara bahwa dia mau berpikir-pikir dahulu. Dengan menghela nafas panjang, sutradara mengijinkan Agus Tromol di beri waktu 3 hari untuk membuat keputusan.

Dikamarnya, Agus Tromol berdiri di depan cermin memandangi rambut panjang kesayangannya. Gelisah hatinya menyeruak terus-menerus. Masgul untuk membuat keputusan. Dilema membayangi pikirannya. Yang akhirnya dia membuat keputusan untuk menyelamatkan kesempatan yang sudah bertahun-tahun didambakan, yaitu sebagai pemain antagonis. Di hari ke tiga, Agus Tromol datang ke salon dan minta rambut panjangnya di- babat habis. Keesokan harinya, berarti hari ke empat, Agus Tromol bergegas dengan hati yang berbunga-bunga pergi ke FTV. Siap berperan sebagai antagonis. Sesampainya di FTV, Nina Arsad menjelaskan, bahwa sang sutradara mengalami kecelakaan di jalan tol dalam keadaan mabuk. Dan jadwal syutingnya di-undur sampai waktu yang belum dapat dipastikan. Serta ada pemikiran dari pihak FTV untuk membatalkan produksi. Mendengar penjelasan ini, hati Agus Tromol seperti diaduk-aduk. Marah campur kecewa. Rambut panjang kesayangannya terlanjur di potong habis, produksi FTV batal. Peran antagonis jadi bablas. Dengan di antar Nina Arsad, Agus tromol menjenguk sang sutradara di rumah sakit.

Terlihat sang sutradara tubuhnya di balut  gips, selain mata, lubang hidung, mulut. Kaki kiri digantungkan dengan posisi 45 derajad. Lalu apa yang dikerjakan Agus Tromol ?. JIMMY ANGGARA menuliskan:

“ Sutradara mabuk, ya”, kata Agus Tromol sambil memencet-mencet kaki yang di balut gips dan terangkat 45 derajad. Sutradara terdengar mengerang.

“ Mabuk-mabukan, ya? Kata Agus Tromol sambil memencet-mencet lagi dengan lebih keras. Sutradara mengerang kesakitan.

“ Itu kaki yang patah!”.

“ Oh, ini kaki yang patah?”

Agus Tromol memencet-mencet lagi kaki yang patah itu. Lalu  ditepuk-tepuknya seperti menepuk kasur dengan sapu. Sutradara mengerang.

“ Aaarghhh….”.

Dari suaranya bisa dibayangkan kesakitan luar biasa yang dialami sutradara Tapi itu belum seberapa. Agus Tromol masih belum puas. “ Suster! Dokter! Ada orang gila! Tolooong” Sutradara berteriak.

Nina Arsad mengajak Agus Tromol cepat keluar, sebelum di-tangkap. Cerpen ini ini oleh JIMMY ANGGARA di tutup dengan kalimat-kalimat:

Tindakan terakhir Agus Tromol  adalah berkata, “Ini untuk rambut kesayanganku!” lalu memukul kaki kiri sutradara dengan keras sekali hingga tali penompangnya putus. Erangan keras yang memilukan dari tenggorokan sutradara membuat Agus Tromol tergelak puas. Dia berlari keluar rumah sakit sambil tertawa-tawa.

Enak membaca cerpen ini. Memperhatikan judulnya memang sudah bisa di duga, bahwa akhir dari cerita ini adalah suatu kegagalan. Dan memang Agus Tromol gagal dalam mengharap datangnya peran antagonis. Kecewa. Di tambah kekecewaan yang tak terhingga karena rambut panjang kesayangannya terlanjur di babat habis.

Saya salah duga dari kegagalan Agus Tromol. Saya pikir kegagalannya dikarenakan peran antagonis itu sudah digantikan oleh orang lain. Karena dalam pertemuan dengan sang sutradara di awal, dijanjikan pada hari ketiga Agus Tromol di minta datang lagi. Tapi di hari ke tiga itulah Agus Tromol baru ke salon membabat habis rambutnya. Justru pada hari ke empat dia datang ke FTV. Penuluis cerpen, ternyata yang di buat alasan kegagalan yaitu dengan mencelakakan sang sutradara.

Saya menunggu terbitnya cerpen JIMMY ANGGARA lagi. (BUDI SAMPURNO. 18.5.2023).

 

 

 

 

Jumat, 05 Mei 2023

SDT.NGOBROL.28

BUDI SAMPURNO.Mei.1



NGOBROL “KOPLING”

Wagiarti baru pulang dari arisan ibu-ibu di Balai RW. Setelah menaruh dompetnya dan cuci tangan cuci kaki, menghampiri Wagiman yang sedang asyik membaca kliping. Wagiarti langsung duduk di samping suaminya.

WAGIARTI   : “ Pak, mobil kita jangan sampai seperti mobilnya Pak Parto lho. Masuk bengkel di Madiun, Ketika mau balik dari mudik”.

WAGIMAN     : “ Memangnya kenapa mobil pak Parto, bu. Pak Parto saya lihat rajin merawat mobilnya. Lihat saja, sebelum ke kantor, tiap pagi pasti di cuci”.

WAGIARTI    : “ Tadi, katanya jeng Parto, masuk bengkel perlu ganti kopling, karena kampas kopling menipis”.

WAGIMAN    : “ O…. Itu karena kebiasaan waktu nyupir. Memang mobil dik Parto itu masih sistem manual. Seperti mobil kita. Jadi kalau nyupir ya harus memparhatikan semacam pantangan bagi mobil manual, bu”.

WAGIARTI    : “ Lho… saya lihat kalau bapak nyupir ya biasa-biasa saja “.

WAGIMAN    : “ Ya, ibu tidak pernah memperhatikan kaki bapak waktu nyupir, sih”.

WAGIARTI    : “ He he he…lha ngapain saya memperhatikan kaki bapak. Kaki itu kalau sedang nyupir ya cuma injak rem, ketika mau mengurangi kecepatan. Injak kopling kalau mau ganti gigi. Lha… saya lebih suka memperhatikan wajah ganteng bapak dari pada memperhatikan gerak kaki bapak”.

WAGIMAN   : “ Nggak usah ngrayu, bu. Ini masih sore”.

WAGIARTI   : “ Saya kalau nyupir, kerja kaki saya, ya begitulah”.

WAGIMAN     : “ Saya yakin, dik Parto itu kalau sedang nyupir, kaki kiri sering atau selalu menempel di pedal kopling. Ini sebenarnya nggak boleh. Akibatnya kampas kopling cepat aus. Kalau sudah aus, bila ganti gigi kadang macet dan gigi nggak bisa ganti. Akibatnya, mobil mogok. Didorongpun nggak bisa, karena giginya mengunci”.

WAGIARTI    : “ Oooo, gitu. Itu mungkin kaki menempel di pedal kopling sudah bertahun-tahun kalau sedang nyupir. Apalagi pak, pantangan orang nyupir itu?’.

WAGIMAN    : “ Ada lagi kebiasaan orang. Yaitu meletakkan tangan kiri di tuas kopling ketika mobil jalan. Ini memberi tekanan pada tuas kopling, akibatnya mekanis kopling tidak bekerja secara sempurna. Ini bisa juga menimbulkan kerusakan “.

WAGIARTI   : “ Ada juga kebiasaan orang, ketika mobil berhenti, gigi tidak dalam posisi nol. Ditinggal rapat atau masuk mall”.

WAGIMAN    : “ Bahayanya, kalau kelupaan, mobil langsung distater, bisa langsung jalan melompat. Ya kalau di depan kosong, kalau ada mobil lain, atau ada anak kecil. Bisa ketabrak. Parkir di mall, mobil bisa langsung terjun menjungkal ke bawah”.

WAGIARTI   : “ Wih, ngeri ya !“.

WAGIMAN   : “ Ya,ngeri kalua tahu akibatnya tidak mematuhi ketentuan cara pemakaian dan pemeliharaan mobil.Tapi, bu. Ngomong-ngomong di sore hari kayak begini akan lebih nikmat kalau ada teh hangatnya “.

WAGIARTI   : “ Eeeeee….Suamiku minta dibuatkan the hangat. Ya, ya, Sebentar suamiku sayang…”.

Wagiarti berdiri, menyenggolkan tangannya kepundak Wagiman. Melangkah cepat kea rah dapur. Wagiman menoleh, tersenyum dan kembali tangannya menyambar tumpukan kliping. (BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.5.5.2023)

 

Kamis, 27 April 2023

 

 

SDT.KOMEN.32

BUDI SAMPURNO.APRIL.1



LAGU INDONESIA RAYA DI SEKOLAH.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Yusuf Masruh telah menginstruksikan kepada seluruh SD, SMP dan SMA Negeri di kawasan Surabaya, wajib menyanyikan Lagu Indonesia Raya sebelum memulai pelajaran. Ini tentunya merupakan hal yang sangat positif. Kita tahu dan merasakan, bahwa akibat dari sistim komunikasi digital, memiliki dapak positif, tapi juga sangat banyak  dampak negatifnya. Anak-anak muda  dengan telepon genggamnya (TG), dapat berkomukasi dengan siapapun tanpa mengenal waktu. Dan bisa berkomukasi dengan orang-orang yang tidak di kenal sebelumnya. Karena jiwanya yang masih labil, maka anak- anak muda mengalami kesulitan dalam menyaring sumber informasi dan informasi yang masuk kepadanya. Pengalaman yang masih sangat kurang dalam pergaulan secara personal maupun kelompok, menyebabkan anak-anak muda, menjadi terjerumus, memakan informasi yang belum sesuai atau tidak pantas untuk mereka konsumsi.

Kita lihat dan perhatikan saja, pengaruh media sosial, budaya asing masuk dengan leluasa derasnya, sehingga anak-anak muda banyak yang tergiur dan mengidolakan budaya asing yang mereka konsumsi tanpa mengenal batas waktu dan batas usia. Kebanyakan anak-anak muda sekarang sudah jarang yang mengenal lagu-lagu keroncong, musik gamelan, musik angklung. Mengenal saja sudah tidak, apalagi untuk menyukai musik-musik tsb. Mereka lebih tergiur dan bahkan hafal dengan lagu-lagu dari luar dan tampaknya sekarang anak-anak muda keranjingan dengan film-film Korea serta lagu-lagunya. Bahkan jenis-jenis makanannyapun mereka gemari. Disinilah tampak sekali lunturnya nilai-nilai kebangsaan kita.

Kembali pada kewajiban sekolah menyanyikan lagu Indonesia Raya, adalah suatu hal yang tepat dan sangat positif. Karena sekolah adalah sebagai tempat pendidikan. Pendidikan menurut Kamus Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa, Edisi ke IV, Departemen Pendidikan Nasional yang diterbitkan oleh PT.Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2008 di halaman 534 disebutkan, sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sekolah merupakan tempat pendidikan formal, yaitu pendidikan yang dilaksanakan secara teratur atau terorganisir secara berjenjang. Disinilah peran penting para penyandang predikat pendidik. Pendidik harus bisa menjadi suri tauladan yang baik. Para pendidik bisa berkomunikasi langsung dengan para anak didiknya, di waktu-waktu senggang, inilah saatnya para pendidik memberikan bimbingan tentang hal-hal kebaikan di luar mata pelajaran formal. Menyadarkan tentang fungsi positifnya dan pengaruh negatifnya dari media sosial, yang kontennya banyak amburadul, di luar nalar dan di luar etika berbudaya. Berita hoaxs, gambar dan film-film yang mengarah ke pornografi bertebaran setiap detik yang dapat di akses mereka melalui telepon genggamnya (TG). Para orang tuapun tidak bisa berbuat apa-apa, tidak punya kemampuan untuk mengontrol. Contoh yang dapat di simak, adalah polah Mario Dandy Satriyo, anak pejabat Kementerian Keuangan, menghajar habis-habisan Cristalino David Ozora. Akibatnya, ayah Mario Dandy Satriyo, Rafael Alun Trisambodo, pejabat Ditjen Pajak, jabatannya rontok, di copot. Dan institusi tempat orang tuanya bekerja mendapat imbas memalukan. Contoh yang juga mengerikan adalah kebiadaban Aditya Hasibuan, anak perwira polisi yang menghajar Ken Admiral (mahasiswa) dihadapan orang tua penghajar. Orang tua penghajar justru membiarkan anaknya berbuat biadab di depan matanya, serta disaksikan banyak orang. Orang tua penghajar, seorang perwira polisi , AKBP. Achiruddin, Kabag Bin Ops Direktorat Narkoba Polda Sumut, langsung di copot dari jabatannya.

Program wajib menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum pelajaran di mulai  diharapkan dapat menumbuhkan jiwa kebangsaan, jiwa kemanusiaan para anak didik. Memiliki karakter yang kuat, sehingga sadar dan mampu menangkis hal-hal yang sifatnya negativ, tidak sesuai dengan kebudayaan, etika serta adat-istiadat bangsa Indonesia.

Alangkah indahnya kalau program yang baik ini  juga bisa diterapkan di kota-kota lain di seluruh Indonesia, baik sekolah negeri maupun sekolah swasta. Karena jumlah sekolah swasta, jumlah muridnya justru lebih banyak dari pada sekolah negeri.(BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.27.4.2023)