Sabtu, 23 September 2023

SDT.NGOBROL34

BUDI SAMPURNO.SEPT.2




                                     


                              NGOBROL “BERBURU GINJAL”

Wagiman tersenyum melihat polah ibu-ibu mengerumini tukang  sayur. Tukang sayur sudah pergi, tapi ibu-ibu masih serius ngobrol. Seorang ibu mengelus dada berkali-kali. Setelah bubaran, Wagiarti ke dapur. Menyusul Wagiman  sambil membawa segelas kopi panas.

WAGIMAN   : “ Bu, saya tadi baca kliping tapi mundur”.

WAGIARTI   : “ Baca kliping mundur?. Maksud bapak?.

WAGIMAN  : “ Baca kliping yang di bulan-bulan lalu. Saya menemukan berita yang mengerikan. Itu lho….jual beli ginjal tapi illegal”.

WAGIARTI  : “ Lah… kok sama,  bu Hendrik kan beli pete yang belum kupasan. Masih ada kulitnya,  Di bungkus kertas koran, kebetulan ada berita tentang jual beli ginjal illegal. Wah, ibu-ibu spontan emosi pol. I ya, pak. ngeri, sadis, raja tega demi uang”.

WAGIMAN  : “Alhamdulillah, sudah ditangani aparat kok bu”.

WAGIARTI :  “Ditangani sih ditangani….Tapi nanti hasilnya gimana…hukumannya gimana.   Imbangkah dengan perbuatannya. Di pengadilan ketemu Jaksa dan Hakim yang penceng. Dituntut ringan. Putusan Hakim juga ringan nanti. Setelah masuk bui, dapat potongan”.

WAGIMAN : “ Sayangku…kok nrocos seperti mercon berantai……”.

WAGIARTI : “ Habis kita tiap hari disuguhi berita…para penegak hukum yang penceng. Ya di koran …televisi…ya di radio….”.

WAGIMAN  : ” He he he di  radio…. Jadi ingat lagunya Gombloh….”.

WAGIARTI  : “ Bapak ini, ah….malah bercanda. Ini permasalah serius pak. Ginjalnya bisa di jual ratuan juta “.

WAGIMAN  : “ Nggak bercanda saya, bu. Ini  ada kliping Jawa Pos yang bapak simpan, ginjal itu laku 200 Juta Rupiah. Pihak Polri sudah bekerja keras serta berhasil menangkap dan dijadikan tersangka sejumlah 714 orang!”.

WAGIARTI   : ” Hoooiii….714 orang tersangka. Ini  sudah sindikat besar … mengglobal”.

WAGIMAN   : “ Sangat mengejutkan memang,….Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Hengki Haryadi menyebut, bahwa sindikat penjual ginjal jaringan internasional sudah memiliki omzet hingga 24,4 miliar Rupiah”.

WAGIARTI  : “Biuh-biuh…. Gerakan para pencari korban itu kok tidak terdeteksi oleh para apparat…!. Para RT, RW?”.

WAGIMAN   : “ Ya pasti sudah, bu. Tapi teknologi sangat canggih. Mereka bergerak lewat media maya. Pak RT dan pak RW, ya nggak bisa tiap hari spaneng ngawasi gerakan masing-masing warganya, apalagi lewat media maya”.

WAGIARTI  : “ Tapi  para aparat… polisi, kejaksaan, tentara. Kan mereka punya pasukan syber media, intel. Sarana itu jangan di pakai ngintelin partai politik saja. Tapi masalah-masalah sosial kemasyarakatan juga sangat penting. Setelah kejadian besar, lalu baru rebut. Saling tuding!!”.

WAGIMAN   : “ Ya, begitulah bu. Harap maklum”.

WAGIARTI  : “  Jangan terus harap maklum, pak. Kita masyarakat harus berani mengingatkan”.

WAGIMAN  : “ Yang lebih penting….dalam aparat itu harus tegak lurus pada sumpah profesinya. Masak Sambo bisa bertindak seleluasa itu melindungi para pelanggar hukum. Itu lagi si botak yang batal jadi Kapolda Jatim, yang ternyata pengedar narkoba”.

WAGIARTI  : “ Kembali masalah korban ginjal. Semoga pelakunya di hukum berat!”.

Wagiman menyeruput kopi. Wagiarti mendengar denting mesin cuci, langsung berdiri , menoel paha Wagiman sambil tersenyum manja.(Budi Sampurno.Mak’skom.IPJT.23.9.2023)

 

 

  

Selasa, 05 September 2023

 

                  SDT. NGOBROL.33

BUDI SAMPURNO.SEPT.2



NGOBROL “TEGA DAN BEJAD"

Setelah menyimpan sapu dan ikrak di gudang, Wagiman cuci tangan serta kaki, langsung menuju teras menyusul Wagiarti. Tangannya yang sudah bersih itu cekatan menggapai gelas berisi kopi.

WAGIARTI  : “ Pak…duduk dulu baru minum. Nggak baik minum sambil berdiri itu”.

WAGIMAN  : “ Ya..ya…Cantikku… Makasih selalu mengingatkan. He he he..ibu habis baca apa kok serius gitu wajahnya”.

WAGIARTI  : “ Saya tadi baca kliping bapak, harian KEDAULATAN RAKYAT, Yogyakarta tgl 5 Juni….Wih kok ngeri ya pak. Tapi sinyalemennya, pasti ya bener. Apalagi di pakai dalam bahasan di Tajuk Rencana”.

WAGIMAN   : “ Tentang apa bu. Saya kok lupa”.

WAGIARTI  : “Ya lupa, wong kliping bapak itu sak tundun gunung gitu. Masalah pelecehan terhadap anak-anak itu lho, pak.. Ngeri ya!”.

WAGIMAN   : “ O, ya . Bapak juga sudah baca. Itu tega dan bejad, bu”.

WAGIARTI    : “ Maksud bapak…?”

WAGIMAN   : “ Ya…sang pelakunya itu. Orangnya tegaan dan juga bejad moralnya!”.

WAGIARTI  : “ Di koran dikatakan, itu fenomena gunung es. Jumlah  sebenarnya itu jauh lebih banyak dari yang terdata. Karena yang jadi korban pelecehan sex ataupun pihak keluarga kebanyakan tidak mau melapor. Malu, namanya tercemar dan juga karena ancaman pelaku.

WAGIMAN  : “ Bener juga, bu yang disampaikan di Tajuk harian KEDAULATAN RAKYAT . Bapak yakini, data yang terungkap sebatas permukaan. Tapi sebenarnya pelecehan sex, dari yang jadi korban atau sang pelaku tidak terungkap seluruhnya, pasti jauh lebih banyak”.”

WAGIARTI  : “ Lho itu data resmi  yang dikeluarkan oleh Federasi Serikat Guru Indonesia DIY.  Kok bapak bisa bilang gitu?”.

WAGIMAN  : “ Halah….kayak ibu nggak ingat saja. Tetangga sebelah kiri kita sampai isterinya minta cerai… masak nggak ingat…..”.

WAGIARTI  : “ He he he… Ya!. Padahal isterinya cantik dan sexi, kok ya masih tergiur sama pembantunya yang masih bau kencur”.

WAGIMAN   : “ Lalu yang sudah di data dan dilaporkan oleh Federasi Serikat Guru Indonesia itu apa ya semua di proses secara hukum? . Kan nggak ada kabarnya lagi. Kalau toh di proses, ya…hukumannya ringan”.

WAGIARTI  : “ Dan tidak dipublikasikan!!!. Apa lagi kalau pelaku berhasil mengajak damai korban sak orangtuanya. Ya nggak bikin kapok!!!. Hakimnya juga begitu. Kata pak Machmud MD, banyak markus yang mengelilingi para hakim. Ya… kalau hakimnya jejeg tegak lurus, nggak terpengaruh. Tapi kalau hakimnya penceng…Ya mak leg….suapannya di terima dan hukumannya diringankan”.

WAGIMAN  :” Tapi, hakim yang masih tegak lurus juga masih banyak lho, bu. Yang positif berpikirnya, gitu lho…”.

WAGIARTI  :” Tapi kenyataannya, pak. Pelecehan sex masih marak. Salah satunya ya karena hukumannya tidak berat. Terus di tiru sama orang lain….. Bapak jangan tiru lho ya….!!!”.

Wagiarti ngomong begitu sambil berdiri, berjalan cepat, berjinjit-jinjit dan tertawa ngiklik. Wagiman tersenyum, melihat tingkah Wagiarti.(BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.5.9.2023)  

 

Sabtu, 02 September 2023

 

SDT NGOBROL32

BUDI SAMPURNO.SEPTEMBER.1



NGOBROL “TETANGGA KOK BEGITU”

Wagiman masih duduk di teras sambil kriak-kriuk makan rengginang oleh-oleh dari pak Santo yang habis wisata ke Yogya. Wagiarti setelah membayar belanjaan ke Ari, pedagang sayur, langsung mau duduk di samping suaminya. Wagiman langsung menegor, agar belanjaan sayurnya  di bawa ke dapur dan di semprot dulu dengan alkohol. Wagiarti tertawa ngiklik, langsung ngibrit ke dapur. Setelahnya, langsung duduk di samping Wagiman dengan wajah yang serius.

WAGIARTI    : “ Pak, kata ibu-ibu tadi…pak Jono sama pak Narto semalam beradu mulut, ramai       sampai seperti orang berantem. Di pisah sama para tetangga”.

WAGIMAN     : “ Ya, sejak dulu bu !  Kedua tetangga itu. Mungkin bisa berhenti kalau salah satunya pindah rumah”.

WAGIARTI    : “ Ngacau ah, bapak. Kok gitu”.

WAGIMAN    : “ Paling yang menjadi penyebabnya pasti masalah pilpres. Seperti lima tahun yang lalu”.

WAGIARTI    : “ I ya pak…Ibu-ibu tadi bilang, juga begitu. Pak Jono mendukung Pak Anies…Lha pak Narto mendukung pak Prabowo. Pak Jono bilang, pak Prabowo itu orangnya sadis, menghilangkan banyak nyawa. Terus di sidang dan di pecat dari TNI”.

WAGIMAN  :” Ya memang benar, bu. Pak Prabowo itu pernah di pecat dari  TNI. Setelah pulang dari melalangbuana terus bikin Partai Gerindra. Dan jadi Ketua Umumnya. Pernah di rangkul ibu Megawati sebagai pasangan Wakil Presiden di Pilpres terdahulu. Tapi kalah. Yang menang dan jadi Presiden Pak Bambang Yudhoyono dengan Wakilnya Pak Hatta Rajasa”.

WAGIARTI  : “ Cerita ibu-ibu tadi lho pak. Pak  Narto bilang kalau Pak Anies hanya pinter ngomong. Kerja sebagai Gubernur DKI nggak ada hasil, nggak becus. Marahlah pak Jono, pot bunga di depan rumah pak Narto di banting. Untung para tetangga pada  datang dan sigap melerai”.

WAGIMAN : “ Kenapa di lerai !!! Biarin saja”.

WAGIARTI  : “ Bapak itu gimana, kok di biarin”.

WAGIMAN  : “ Biar dua-duanya tahu… merasakan…Nggak ada untungnya berdebat soal Pilpres. Biar dua-duanya tahu, bahwa pertengkaran itu mengakibatkan  rugi dua-duanya. Lima tahun yang lalu juga begitu. Berantem sampai rame dipisah tetangga……E…setelah Pilpres , Pak Prabowo gabung dengan pak Jakowi…. Malah mau jadi bawahannya, meskipun jabatan Menteri, tapi namanya kan tetap saja bawahannya pak Jakowi. Yang dulunya saling berebut kursi kepresidenan”.

WAGIARTI  : “ Ya, apa lagi sekarang pak Anies di sebut sebagai pengkhianat oleh pak SBY. Ini pak Narto dapat peluru lagi untuk mengejek pak Jono. Tapi yang harus kita pikirkan, bagaimana caranya supaya mereka itu tidak berantem berkelanjutan “.

WAGIMAN  : “ Ya, tugas pak RT lah…!!!”

WAGIARTI  : “ Ya, nggak mungkinlah pak.Wong pak RT nya usianya lebih muda dari pak Jono dan pak Narto. Apa ya, pak RT di gubris…. Sebaiknya pak RT itu di dampingi oleh para sesepuh kampung. Biar ada tambah wibawa. I ya pak, cepet sarankan ke pak RT. Biar mereka sadar. Perseteruannya  tidak berlanjut. Biar tidak mengganggu ketenteraman para tetangga”.

WAGIMAN : “ He he he….Pucuk di cinta, ulam tiba, bu. Tuh pak RT ketok-ketok pintu pagar kita”.

WAGIARTI : “  Lha dallah…. Saya tak masuk. Saya siapkan wedang kopinya”.

Wagiarti langsung berdiri, berjalan ke dapur. Wagiman berlari-lari kecil membukakan pintu pagar.

(Budi Sampurno.Mak’skom.IPJT.2.9.2023)

 

Rabu, 26 Juli 2023

 

SDT. NGOBROL31

BUDI SAMPURNO.JULI.1

KAMPANYE DI TEMPAT IBADAH

Waktu sore dan udara cerah. Sepasang suami isteri, Wagiman Wagiarti, menikmati wedang jahe merah, oleh-oleh dari Subari, tetangga sebelah kiri rumah. Suasana hening, dipecahkan dengan celetukan Wagiarti.

WAGIARTI: “ Sekarang ini bisa di bilang tahun politik, ya pak?!”

WAGIMAN : “ Lho. Ia ya bu, sekarang ini sudah masuk tahun politik dalam rentetannya Pemilu yang rencananya diselenggarakan pada th 2024”.

WAGIARTI : “ Makanya kok sudah rame di surat kabar di televisi dan juga di media sosial. Saya kok mual kalau melihat di media sosial. Di grup WA, isinya itu lho pak, saling ejek mengejek, ada juga yang ngak masuk akal”.

WAGIMAN : “ I ya bu. Saya juga nggak suka. Isinya saling menjelek-jelekan lawan koalisinya. Toh sebenarnya Capresnya…..ya sudah muncul. Tapi nama Wacapresnya sampai sekarang belum juga dideklarasikan”.

WAGIARTI : “ Capresnya, kalau menurut analisa para pengamat, katanya mungkin bisa tambah lagi. Tapi juga bisa berkurang dari nama-nama yang sudah muncul. Kok bisa berkurang ya, pak”.

WAGIMAN : “ Ya bisa, bu. Kalau ada lagi partai-partai yang bergabung membentuk koalisi serta memunculkan Capres baru. Ya Capresnya jumlahnya nambah. Berkurang, mungkin saja. Kenapa tidak”.

WAGIARTI : “ Tapi kok mungkin, pak?”

WAGIMAN : “ Bisa saja, misalnya dari partai-partai yang sudah bergabung membentuk koalisi itu ada yang membelot, berpaling muka untuk mendukung calon lain di luar koalisinya sehingga koalisi semula, tidak memenuhi syarat. Ya calonnya otomatis gagal”.

WAGIARTI  : “ Jadwal kampanye saja belum, tapi suasananya sudah seperti hari-hari kampanye saja. Calon yang sudah dideklarasikan, secara sengaja dan terjadwal keliling di berbagai daerah bertemu dengan relawan atau pendukungnya”.

WAGIMAN   : “ Itulah politik. Itulah partai. Yang di cari dan diharapkan, menang atau kalah”.

WAGIARTI  : “ Itu namanya…curi start. Seharusnya…KPU…priiittt…!!!! Gitu dong…!!!”.

WAGIMAN   : “ Ya…masyarakat yang fanatik terhadap salah satu calon, seneng saja di ajak hura-hura…”.

WAGIARTI  : “ Jadwal kampanye itu kapan sih…?”

WAGIMAN   : “ Jadwalnya mulai 28 Nopember 2023 sampai tgl 10 Februari 2024, tgl 11 Februari sampai 13 Februai 2024…itu masa tenang. Sudah nggak boleh ada yang berbau kampanye. Lalu tgl 14 Februari 2024…waktunya pencoblosan. Tempat kampanye dan waktu kampanye juga sudah diatur jadwalnya. Supaya tidak bentrok. Jadi semua partai harus mentaatinya”.

WAGIARTI  : “Baguslah kalau sudah diatur begitu. Karena ada tempat-tempat tertentu, tidak boleh di pakai ajang kampanye. Seperti tempat-tempat ibadah”.

WAGIMAN   : “ Pinter ibu…!”.

WAGIARTI : “ Pinter dong….suka curi-curi klipingnya bapak. Tapi itu lho, kota Sidoarjo Jawa Timur, kompak tolak kampanye di tempat ibadah”.

WAGIMAN   : “ Kalau nggak salah, beritanya di muat di JAWA POS…tanggalnya lupa”.

WAGIARTI   : “ Ini klipingnya. Di muat pada tgl 17 Mei 2023

WAGIMAN   : “ Coba tolong di baca, bu…”.

WAGIARTI  : Ya, saya baca. Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPINDA) Sidoarjo bersama tokoh agama di Sidoarjo kompak menolak kampanye di tempat ibadah. Kometmen tsb. mereka tunjukkan dengan deklarasi bersama di Pendapa Delta Wibawa pada tgl 16 Mei 2023. Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali, Kapolresta Sidoarjo Kombespol Kusuma Wahyu Bintoro, Komandan Kodim Sidoarjo Letkol Inf. Masrum Djati Laksono dan tokoh lintas agama turut menandatangani deklarasi tolak kampanye di tempat ibadah….Baca terus sampai habis, pak?”.

WAGIMAN   : “ Cukup….cukup, bu!!!”.

WAGIARTI  : “ Mudah-mudahan benar-benar dilaksanakan deklarasi tsb. dan semoga di tiru di kota kota lain se Indonesia. Sehingga pada masa kampanye nantinya akan terasa sejuk, nyaman…”.

WAGIMAN   : “ Aamiin….!!!”.

WAGIARTI  : “ Lho…habis pak wedang jahenya. Seger ya. Anget di badan. Makasih mas Subari. Kapan-kapan oleh-oleh wedang jahe lagi ya…”.

WAGIMAN   : “ Heh…Malu-malu in saja…Saya juga mau mas Subari..”.

WAGIARTI  : “ Tuh… Sudah terdengar azan maghrib. Ayo ambil wudhu…”.

Wagiman Wagiarti langsung masuk ke dalam untuk menjalankan sholat maghrib. Tidak lupa tangan Wagiman menjangkau sekakelar, menyalakan lampu teras. Wagiarti menyalakan lampu tengah dan ruang makan.(BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.26.7.2023)  

 

Selasa, 04 Juli 2023

 

SDT.SASTRA.32

BUDI SAMPURNO.JULI.1

INI TENTANG YAN

Saya bersemangat membaca cerpen di harian KOMPAS, Minggu, tgl 25 Juni 2023. Ceriteranya menarik, alurnya mengalir, mudah diikuti dan dipahami. Judul cerpen ini adalah “INI TENTANG YAN”. Di tulis oleh FARIZAL SIKUMBANG, lahir di Padang 5 April 1974. Sekarang tinggal di Banda Aceh.

FARIZAL SIKUMBANG membuka cerpennya dengan kalimat “ Yan mengumpulkan lalu membakar daun kering serta beberapa sampah plastik yang berserak di jalan depan rumahku. Ketika aku sedang membersihkan kendaraan roda duaku yang kotor karena debu. Jarak antara aku dan Yan mungkin hanya dua puluh meter. Tapi Yan tidak memedulikanku.Yan sibuk membakar tumpukan sampah kecil itu”.

Dalam cerpen ini dikisahkan, bahwa Yan adalah anak kecil yang sangat sering dimarahi dan di siksa ayah tirinya. Di pukul, di tendang sampai terpelanting ke pematang sawah, di lempar pakai kayu.  Yan juga beberapa kali di ikat tanpa baju di pohon manggis depan rumahnya. Tubuhnya di lecut dengan sapu lidi. Tetangga-tetangga tidak ada satupun yang bisa mencegahnya. Ibu kandungnya sendiri juga tidak bisa berkutik.

Yan sebenarnya bukan anak yang bodoh. Di sekolah Yan tidak suka pelajaran matematika, tetapi lebih suka dengan palajaran yang beralur ke arah seni. Yan sebenarnya tidak nakal, hanya usil kepada teman atau orang lain. Bila usilnya berhasil, biasanya Yan tertawa lebar. Kelakuan  usil inilah yang membuat Yan sering dimarahi ayah tirinya. Dan juga orang lain, termasuk gurunya.

Di Sekolah Dasar, Yan pernah di lempar sapu lidi oleh bu guru Tania. Gara-gara bu Tania terprovokasi dengan usilnya Yan. Bu guru mendapat laporan dari teman sekelas, bahwa pensil Wati di ambil Yan.Tetapi, Yan bersikukuh tidak mengambil dan siap di geledah. Inilah penyebab Yan di lempar sapu lidi . Dialognya dituturkan oleh FARIZAL sbb:

“ Jika ibu guru tidak percaya, periksalah sakuku ini”, ujar Yan penuh akal-akalan.

“ Ayo bu guru, periksalah”, tambah Yan lagi

Guru Tania terpancing juga oleh provokasi Yan. Ia lalu memasukkan tangan kanannya ke saku celana Yan yang bolong. Tiba-tiba guru Tania terpekik. Ia merasa geli. Seperti memegang hewan yang menjijikkan. Yan tertawa. Guru Tania merasa di tipu. Yan di lempar pakai sapu. Seisi kelas riuh dan ribut setelah tahu jika Yan berbuat usil”.

Keusilan Yan itu terjadi ketika masih di Sekolah Dasar, namun di ulang lagi di Sekolah Menengah Pertama. Yan usil lagi kepada guru perempuan Bahasa Inggris. Yan di hukum berat, yaitu di jemur di lapangan dari jam sembilan sampai jam satu siang. Orang tuanya diwajibkan datang keesokan harinya. Akibatnya, Yan di rumah di pukul oleh ayah tirinya, di ikat di pohon mangga.

Yan punya bakat melukis. Bila menggambar orang, bisa mirip sekali dengan aslinya. Tapi ini pulalah yang menyebabkan Yan menjadi anak putus sekolah.  Yan belajar membuat karikatur dengan memimjam buku cara membuat kariktur dan berhasil. Yan juga suka meminjam buku ceritera anekdot. Tapi sifat usilnya itu yang membahayakan dirinya. Dibuatnya karikatur dengan tokoh guru di sekolah. Kepala Sekolah yang orangnya tegas digambarkan dengan bentuk perut yang besar seperti bola, sedangkan kepalanya serta kedua kakinya di gambar berbentuk kecil. Guru matematika justru kebalikannya, badannya kurus kecil tetapi kepalanya besar seperti bola. Memang Yan tidak suka dengan ke dua guru itu. Inilah polah usil yang membuat petaka pada dirinya. Suatu hari Yan tampak termenung di sekolah.

Aku tidak akan sekolah lagi di sini”, kata Yan.

Mulanya aku tidak terkejut pada ucapan Yan. Aku berpikir Yan hanya melucu.

“ Aku dikeluarkan di sekolah”, tambahnya.

Aku mulai berpikir mungkin kali ini ia serius.

“ Ada apa?” tanyaku

“ Aku teledor. Karikatur Kepala Sekolah mungkin terjatuh dari bukuku. Dan seseorang telah memberikannya pada beliau”.

“ Celaka dua belas,” kataku

“ Habislah aku”. kata Yan penuh penyesalan.

Anehnya,Yan tidak sedih dan tidak berputus asa. Ternyata dengan kepandaiannya melukis, Yan bisa mendapatkan uang. Setiap Sabtu dia pergi ke pasar ibu kota kecamatan, di situ dia melukis wajah orang dan mendapatkan upah. Di lain waktu, Yan dapat pesanan dengan upah yang cukup besar. Yaitu di suruh orang menggambar situasi kampung yang kotor serta jalan dibuat seperti kolam.

Beberapa hari kemudian, Yan dipukuli oleh beberapa pemuda di pasar Kecamatan, sampai pingsan. Kejadian ini membuat Yan membisu meskipun di tengok temannya. Beberapa kali di tengok, tetap saja diam. Dan setelah itu, tokoh “aku” beberapa tahun tidak ketemu lagi dengan Yan.

Ketika ketemu lagi, Yan sudah banyak berubah, tetapi tetap saja diam, ketika “ aku “ bertemu, Yan sibuk menyapu sampah di jalan serta membakarnya. Rambutnya panjang sebahu dan berpakaian ala penyanyi cadas. 

Membaca cerpen ini, saya merasa terhibur, tertawa geli dengan cerita usilnya Yan ketika di Sekolah Dasar serta di Sekolah Menengah Pertama. Imajinasi saya membayangkan mimik, wajah serta polah kedua guru wanita itu terkejut setelah merogoh saku bolong celana Yan. Yang terpegang bukannya pensil yang di cari, tetapi justru burungnya Yan.

Tapi saya juga memperoleh wawasan bagaimana seharusnya mendidik anak, meskipun anak itu adalah anak tiri. Penulis juga memberikan informasi yang jelas kena apa ayahnya suka marah, menghajar Yan sampai di luar batas. Karena Yan anak tiri. Yan juga menyesal atas keteledorannya, karikatur Kepala Sekolah yang di buat lucu, terjatuh sehingga di ambil keputusan fatal, yaitu mengeluarkan Yan dari sekolah. (BUDI SAMPURNO. Mak’skom.IPJT.4.7.2023)

 

 

 

 

 

 

Jumat, 30 Juni 2023

 

SDT.KOMEN.34

BUDI SAMPURNO.JUNI.2



CALON WAPRES JAELANI NARO

    Tajuk HARIAN KOMPAS, tgl 3 Maret 1988 di beri judul “ TEROBOSAN POLITIK YANG DILAKUKAN OLEH JAELANI NARO.  Di tulis dalam tajuk : “ Dua reaksi timbul, ketika Fraksi Persatuan Pembangunan dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat mengajukan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan, Jaelani Naro sebagai calon Wakil Presiden.

Reaksi pertama berkomentar, Fraksi Persatuan dan Jaelani Naro berolok-olok atau istilah yang di pakai, main-main.

Reaksi demikian beralasan, toh FPP maupun Jaelani Naro tahu, mereka tidak akan berhasil. Mengapa masih juga maju?.

Reaksi kedua menilai, Langkah FPP dan ketua umum partai itu merupakan terobosan terhadap lontaran lima kriteria calon Wakil Presiden yang dikemukakan oleh Ketua Dewan Pembina Golkar .

    Bagi mereka yang hidup di sekitar th 1988, pastilah tahu, bahwa pada masa-masa itu, partai Golkar merupakan partai yang berkuasa penuh dengan pak Soeharto sebagai Presiden yang kala itu masih kuat pengaruhnya kepada MPR.

Jadi pemilihan Wakil Presiden sebenarnya juga sangat tergantung kepada pak Harto sendiri. Kita juga merasakan, ketika masa-masa itu lahirnya pemimpin formal atapun nonformal merupakan floating leader atau penunjukan dari atas. Dasar penunjukan yaitu kekuasaan yang diartikan kepatuhan karena kekuasaan.

Tetapi untuk mencerminkan bahwa penentuan siapa Wakil Presiden tetap berazaskan Demokrasi, maka Dewan Pembina Golkar memberikan kreteria atau persyaratan untuk bisa menduduki kursi Wakil Presiden. Waktu itu dua partai lainnya, yaitu PPP dan PDIP tidak memiliki kekuatan untuk mengajukan siapa yang patut untuk menjadi Wakil Presiden Soeharto. Namun PPP mencoba memberanikan mendobrak kebekuan politik, tetapi toh saja yang jadi Wakil Presiden tetap dari Partai Golkar.

    Bagaimana saat sekarang ini. Kita juga sedang disibukkan dengan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Tetapi sekarang partai-partai mempunyai hak sama untuk mengajukan siapa Presiden dan Wakil Presiden. Namun masing-masing partai tidak bisa mengajukan calon-calonnya. Itulah sebabnya untuk memenuhi syarat bisa mengajukan Capres Cawapres, partai-partai harus membentuk koalisi. Untuk bergabung membentuk koalisi juga bukan merupakan hal yang gampang. Mereka harus bersepakat dan mempersamakan visi-misinya serta memkompromikan kepentingan masing-masing partai. Tentunya tidak segampang yang kita bayangkan, suatu partai mau mengalah dengan kepentingan partai lain. Kalau toh ada partai yang mengalah, pastilah akan meminta kontribusinya yang seimbang, kalau Capres dan Cawapres yang di dukung bersama memperoleh kemenangan.

Seperti sekarang ini masih saling tawar menawar. Ganjar Pranowo yang sudah jelas-jelas di dukung PDIP, juga belum berhasil bersepakat siapa yang dicalonkan untuk menjadi Calon Wakil Presidennya. Demikian pula dengan Prabowo Subianto yang diunggulkan oleh partainya sendiri, Gerindra. Apalagi dengan Anies Baswedan. Nasdem tampaknya mau melakukan terobosan politik, seperti yang dilakukan Jaelani Naro, Ketua Umum PPP saat itu. Nasdem yang sebenarnya masih harus berkoalisi dengan koalisi Pemerintah serta mendukung Presiden Joko Widodo sampai akhir pemerintahannya, mencoba mendahului mendeklarasikan Capresnya. Tetapi karena kepentingan yang masih saling berbeda serta belum adanya kesepakatan partai-partai yang diharapkan menjadi koalisinya, sampai sekarang juga belum dimunculkan siapakah Cawapresnya Anies Baswedan. Nasdem pasti juga sudah berhitung,  jika nantinya Anies Baswedan tidak berhasil menjadi Presiden.

    Tetapi yang terpenting, siapapun nanti yang terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden NKRI, harus bisa menjaga stabilitas, agar Indonesia tidak terpecah belah dalam bidang sosial, politik, budaya dan keamanan, demi keutuhan NKRI yang sama-sama kita cintai. (BUDI SAMPURNO.Mak’skom,IPJT, 30.6.2023)

 

 

Minggu, 25 Juni 2023

 

SDT.SASTRA.31

BUDI SAMPURNO, JUNI.1



MIRA INGIN JADI BATU

Judul kupasan ini sama dengan judul cerpen yang di muat di HARIAN KOMPAS, hari Minggu tgl, 11 Juni 2023. Hasil karya tulis MASDHAR ZAINAL, kelahiran 5 Juni 1984 di Madiun yang sekarang tinggal di Malang. Cerpen ini berceritera tentang seorang gadis bernama Mira yang sangat ketakutan ketika mau menerima rapor kenaikkan kelas. MASDHAR membuka cerpennya dengan, “ Malam sehari sebelum pembagian rapor kenaikan kelas, Mira menatap cermin dalam kamarnya, dia mendengar suara-suara dari dalam dirinya”.

Mira sendiri mengakui kalau dirinya bodoh, tolol. “ Mira memelototi sosok dalam cermin. Tidak tersenyum. Rasanya dia tidak mengenal baik sosok dalam cermin itu. Dia hanya tahu, gadis dalam cermin itu adalah gadis paling tolol di kelas.Tak pernah dapat nilai bagus. Tidak banyak disukai teman-teman. Dan selalu menjadi bulan-bulanan omelan para guru. Bocah goblok! Bocah tolol! Bocah malas!”.

Ketika Mira sedang asyik berdialog dengan dirinya di hadapan cermin di kamar terdengar teriakan ibunya.

“ Miraa!.Matikan lampunya dan cepat tidur!. Besok pagi kita ambil rapormu. Kita lihat apa kamu bakal naik kelas atau mendekam di kelas empat!.

Mira diceriterakan hidup bersama mamanya. Mamanya bisa di bilang galak, keras. Selalu dan sering memarahi Mira. Digambarkan oleh MASDHAR ZAINAL, selepas pembagian rapor semester awal. “ Sampai di rumah, Mama langsung mendudukannya di kursi tamu. Sangat kasar. Rapor di banting di atas meja dalam keadaan terbuka.”Lihat nilaimu. Lihat!. Merah semua! Kamu selalu bikin malu Mama. Tak pernah bisa bikin Mama bangga!. Mama mendorong dorong jidat Mira dengan jari telunjuknya. Seperti hendak mencocok matanya”.

Setelah mematikan lampu, Mira tidur dan paginya, kembali suara Mama juga menggema dalam kamar, menyuruh Mira segera bangun, mandi dan cepat berangkat ke sekolah.

Sesampai di sekolah Mira duduk pada bangku di luar kelas. Dia melihat mamanya duduk di deretan nomor tiga dari belakang. Mira melihat teman-teman sekelas sedang bermain di halaman. Mira mengabaikan polah teman-temannya. Tetapi ingat perlakuan mamanya selama ini, Mira hampir saja membenci mamanya. “Dia menyesal. Hampir saja dia membenci mama. Untungnya dia teringat pelajaran agama tentang berbakti kepada orang tua. Dia ingat pesan Pak Huda, betapa beruntungnya anak-anak yang masih memiliki orang tua. Dia juga teringat cerita Malin Kundang yang pernah dia baca di perpustakaan sekolah, kisah si anak durhaka. Mira membayangkan, jika dia membantah kata-kata mama, bisa-bisa dia di kutuk menjadi batu, seperti Malin Kundang. Duh, bagaimana rasanya dikutuk jadi batu?”

Para orang tua telah berbondong-bondong keluar dari kelas. Mamanya tidak tampak ikut keluar kelas. Dilihatnya, mama masih berbicara berhadap-hadapan dengan Bu Guru Karti di dalam kelas. Mira gelisah dan cemas serta digeluti rasa takut yang luar biasa. Mira memejamkan mata,mengepalkan telapak tangan erat-erat, mencengkeramkan jari-jari kaki dalam sepatu, mengadukan giginya. Dalam kondisi demikian, pikiran dan jiwa Mira melayang, teringat cerita Malin Kundang. MASHDAR ZAINAL menggambarkan ketakutan Mira dengan kalimat, “ Mungkin aku mau jadi batu.Tapi, kalau dipikir-pikir jadi batu sepertinya tidak terlalu buruk. Aku tak perlu lagi menangis bila dipukul mama. Tak perlu gemetar bila  diteriaki mama. Dan yang paling penting, tak perlu lagi berhadapan dengan rapor beserta angka-angka merah yang ada di dalamnya. Aku mau jadi batu saja”.

Begitu mama keluar dari ruang kelas serta memekikkan namanya, Mira tetap tidak bergeming dari duduknya. Mama menyeret Mira mengajak pulang.

Cerita yang tidak enak ini di tutup oleh MASHDAR ZAINAL, “ Mama terus memekik-mekik, sambil  berusaha menyerat Mira. Mira tak bersuara. Matanya terus  terpejam. Guru-guru berdatangan. Teman-teman Mira berkerumun. Mira tak perlu tahu kalau dia dan mamanya sudah jadi tontonan orang satu sekolahan”.

Aku mau jadi batu!. Aku mau jadi batu!.

Cerpen ini berakhir dengan begitu, tanpa informasi bagaimana sesampainya di rumah. Pelampiasan model apa yang ditumpahkan mamanya kepada Mira.

Dari awal saya baca, MASHDAR ZAINAL memang tidak memberikan informasi secuilpun, siapakah si Mama itu. Apakah seorang janda, apakah seorang ibu tiri Mira. Ini berkaitan dengan tingkah laku, sikap Mama kepada Mira, yang begitu kejam. Biasanya kalau anak kandung, mungkin Mama tidak akan sesadis itu, kecuali mungkin ada kekecewaan yang mendalam dengan mantan suami. Sebaiknya penulis perlu sedikit memberikan informasi hubungan antara Mama dan Mira, sehingga pembaca bisa menerimanya secara logika. Mengapa Mira sampai berpikiran kuat, serta berkehendak lebih baik menjadi batu saja, dari pada sehari-hari berhadapan dengan kejamnya sang Mama. (BUDI SAMPURNO.Mak’skom.IPJT.25.6.2023)