Jumat, 21 Januari 2022

 

Budi Sampurno. Jan.4

SDT.NGOBROL.4.

NGOBROL PASAL GREGETEN.

Pagi itu gerimis masih gemericik. Pak Wagiman serius membaca koran pagi.  Kacamatanya dinaik-turunkan. Kayaknya yang di baca seru, tapi kadang ada huruf-huruf yang tampak kabur. Makanya berkali-kali kacamatanya dinaik-turunkan.

Bu Wagiarti dari dapur, membawa kopi untuk suaminya. Melihat polah suaminya, mengernyitkan keningnya dan matanya. Lalu bertanya.

Wagiarti   : “Serius banget bacanya pak. Ada berita seru ya….Apa kecelakaan..?”

Wagiman tidak mendengar pertanyaan bu Wagiarti, karena saking seriusnya membaca.

Wagiarti     : “ Pak…di tanya kok nggak njawab…Oooo wedang kopinya tak bawa balik dapur lho “

Wagiman    : “ Ya bu…maaf…maaf nggak dengar…”

Wagiarti     :.” Oooo….dasar….”

Wagiman    : “ Dasar suami ibu ngganteng ya….”

Wagiarti     : “ Gee…eeerrrr….Sudah tua…rambut mulai putih, kok ngaku ngganteng….”

Wagiman    : “ Kok sewot…cantiknya tenggelam lho nanti…..”

Wagiarti     : “ Tenggelam ya biarkan saja….Ada berita apa sih…”

Wagiman   : “  Ini lho. KPK kembali melakukan tangkap tangan….”

Wagiarti    : “ Hari gini…kok ya masih ada orang berbuat jahat ya…Nggak kasian rakyat kecil ini. Di tangkap-tangan kena kasus apa…?”

Wagiman   : “ Ini… jual beli jabatan…. Dan korupsi….”.

Wagiarti     : “ Alhamdulillah…ketangkap….Sokor…rasakno…”

Wagiman   : “ Eeee kok rasakno….”

Wagiarti    : “ Ya…tembak mati saja….”

Wagiman  : “ Ya, nggak boleh gitu. Negara kita itu negara hukum. Jadi harus di proses, diadili, dibuktikan, ditimbang bobot kejahatannya.. baru ditentukan hukumannya….”

Wagiarti    : “ Ya..nggak usah panjang-panjang lah….Tembak…Pasti masyarakat banyak yang setuju…”

Wagiman   : “ Terus…kok di tembak itu…pasalnya pasal apa bu….”

Wagiarti    : “ Ya….Pasal Gregeten….!!! “.

Wagiman   : “ Ooooo….Pasal Gregetan…Di KUHP , Di Undang-Undang lainnya juga nggak ada bu….pasal kok gregeten…”.

Bu Wagiarti belum sempat menjawab, mesin cuci berdenting. Dan bu Wagiarti langsung berdiri, berjalan menuju belakang guna memberesi cuciannya. Dan pak Wagiman kembali asyik membaca koran lagi. Dan tidak terasa, gerimis sudah mereda. Bu Wagiarti bersyukur, karena bisa berharap hasil cuciannya segera kering. (Budi Sampurno.Mak’skom.IPJT.21.1.2022)

 

 

6 komentar:

  1. Bagaimana Indonesia bisa maju, kalau korupsi merajarela.

    BalasHapus
  2. Ditembak mati sih mgkn belum setimpal kadar kekejamannya laksana membantai sesama. Tapi yg bikin masyarakat kecewa dan geregetan itu jika vonis yg dijatuhkan pengadilan kok relatif ringan, demikian juga denda dan kewajiban membayar jauh di bawah perolehan kejahatan yg mereka dapat. Saat mana masyarakat lapisan bawah masih berjibaku blm berhasil mentas dari kesulitan mendapat income, kerasnya persaingan usaha, kelaparan, tdk mampu membayar beban² kehidupan spt pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan primer lainnya. Boro2 kebutuhan pelesiran...

    BalasHapus
  3. Pemikiran yg simpel dari ibu, yg gregetan nya mungkin sudah dari lahir..kapan hukum dan peraturan bisa sesimpel dan selugas pemikiran bu wagiarti ya? Hehehe

    BalasHapus
  4. isi hati kaum akAr ruMput.....hehehe
    semua hanyalah PanģGung SandiWara....
    PasAl grEgeTan itu yang paling Pass buat kaum akAr ruMput terhadap PasAl UU yang ada....
    " tuMpuL ke atAs tajAm ke baWah "
    😀

    BalasHapus
  5. UU anti kor kita, 31/99 n 20/21 sebnrnya sdh cukup tegas, tinggal niat n kemamp menerapkannya, smg tdk samp bikin rakyat frustrasi, bahkan.. wis sak karepmu...

    BalasHapus