Budi
Sampurno. Jan.4
SDT.NGOBROL.4.
NGOBROL
PASAL GREGETEN.
Pagi
itu gerimis masih gemericik. Pak Wagiman serius membaca koran pagi. Kacamatanya dinaik-turunkan. Kayaknya yang di
baca seru, tapi kadang ada huruf-huruf yang tampak kabur. Makanya berkali-kali
kacamatanya dinaik-turunkan.
Bu
Wagiarti dari dapur, membawa kopi untuk suaminya. Melihat polah suaminya,
mengernyitkan keningnya dan matanya. Lalu bertanya.
Wagiarti : “Serius banget bacanya pak. Ada berita
seru ya….Apa kecelakaan..?”
Wagiman
tidak mendengar pertanyaan bu Wagiarti, karena saking seriusnya membaca.
Wagiarti : “ Pak…di tanya kok nggak njawab…Oooo
wedang kopinya tak bawa balik dapur lho “
Wagiman : “ Ya bu…maaf…maaf nggak dengar…”
Wagiarti :.” Oooo….dasar….”
Wagiman
: “ Dasar suami ibu ngganteng ya….”
Wagiarti : “ Gee…eeerrrr….Sudah tua…rambut mulai
putih, kok ngaku ngganteng….”
Wagiman : “ Kok sewot…cantiknya tenggelam lho
nanti…..”
Wagiarti : “ Tenggelam ya biarkan saja….Ada berita
apa sih…”
Wagiman : “
Ini lho. KPK kembali melakukan tangkap tangan….”
Wagiarti : “ Hari gini…kok ya masih ada orang
berbuat jahat ya…Nggak kasian rakyat kecil ini. Di tangkap-tangan kena kasus
apa…?”
Wagiman : “ Ini… jual beli jabatan…. Dan korupsi….”.
Wagiarti : “
Alhamdulillah…ketangkap….Sokor…rasakno…”
Wagiman : “ Eeee kok rasakno….”
Wagiarti : “ Ya…tembak mati saja….”
Wagiman : “ Ya, nggak boleh gitu. Negara kita itu
negara hukum. Jadi harus di proses, diadili, dibuktikan, ditimbang bobot kejahatannya..
baru ditentukan hukumannya….”
Wagiarti : “ Ya..nggak usah panjang-panjang
lah….Tembak…Pasti masyarakat banyak yang setuju…”
Wagiman : “ Terus…kok di tembak itu…pasalnya pasal
apa bu….”
Wagiarti : “ Ya….Pasal Gregeten….!!! “.
Wagiman : “ Ooooo….Pasal Gregetan…Di KUHP , Di
Undang-Undang lainnya juga nggak ada bu….pasal kok gregeten…”.
Bu
Wagiarti belum sempat menjawab, mesin cuci berdenting. Dan bu Wagiarti langsung
berdiri, berjalan menuju belakang guna memberesi cuciannya. Dan pak Wagiman kembali
asyik membaca koran lagi. Dan tidak terasa, gerimis sudah mereda. Bu Wagiarti
bersyukur, karena bisa berharap hasil cuciannya segera kering. (Budi
Sampurno.Mak’skom.IPJT.21.1.2022)
Bagaimana Indonesia bisa maju, kalau korupsi merajarela.
BalasHapusDitembak mati sih mgkn belum setimpal kadar kekejamannya laksana membantai sesama. Tapi yg bikin masyarakat kecewa dan geregetan itu jika vonis yg dijatuhkan pengadilan kok relatif ringan, demikian juga denda dan kewajiban membayar jauh di bawah perolehan kejahatan yg mereka dapat. Saat mana masyarakat lapisan bawah masih berjibaku blm berhasil mentas dari kesulitan mendapat income, kerasnya persaingan usaha, kelaparan, tdk mampu membayar beban² kehidupan spt pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan primer lainnya. Boro2 kebutuhan pelesiran...
BalasHapusPemikiran yg simpel dari ibu, yg gregetan nya mungkin sudah dari lahir..kapan hukum dan peraturan bisa sesimpel dan selugas pemikiran bu wagiarti ya? Hehehe
BalasHapusisi hati kaum akAr ruMput.....hehehe
BalasHapussemua hanyalah PanģGung SandiWara....
PasAl grEgeTan itu yang paling Pass buat kaum akAr ruMput terhadap PasAl UU yang ada....
" tuMpuL ke atAs tajAm ke baWah "
😀
Emak-emak dilawan hehe...
BalasHapusUU anti kor kita, 31/99 n 20/21 sebnrnya sdh cukup tegas, tinggal niat n kemamp menerapkannya, smg tdk samp bikin rakyat frustrasi, bahkan.. wis sak karepmu...
BalasHapus